Selasa, 09 November 2010

tbc

1. Pengertian

Tuberkulosis paru pada manusia dapat dijumpai dalam 2 bentuk yaitu:

1. Tuberkulosis Primer

Bila penyakit terjadi pada infeksi pertama kali.

2. Tuberkulosis Pasca Primer

Bila penyakit timbul setelah beberapa waktu seseorang terkena infeksi primer penyembuh, dan merupakan yang terpenting oleh karena merupakan bentuk yang paling sering ditemukan dan terdapatnya kuman dalam sputum, merupakan sumber pennuularan.

( Junadi, Purnawan, dkk. 1982 : 211 )

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan mycobacteerium bovis ( jarang oleh mycobacterium avium ).

( Staf pengajar ilmu kesehatan anak FKUI . 1985 : 574 )

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis, dapat menyerang semua alat tubuh, yang tersering ialah paru dan tulang; biasanya pada permulaan terjadi benjolan-benjolan kecil ( tubercle atau tuberculum ).

(Hendra T. Laksman . 2000 : 364 )

Penyakit Tuberkulosis pada bayi dan anak disebut juga tuberkulosis primer dan merupakan suatu penyakit sistemik. TBC Primer biasanya mulai secara berlahan-lahan, sehingga sukar saat gejala pertama. Kadang-kadang terdapat emam yang tidak diketahui sebabnya dan sering ditandai dengan infeksi saluran nafas begian atas.

( Ngastiyah. 1995 : 46 )

2. Etiologi

Penyakit Tuberkulosis paru disebabkan oleh kuman tahan asam Mycobacterium Tuberculosis, sangat jarang oleh M. Bovis daan M. Atipik. Basil TBC dapat hidup dan tetap virulen beberapa minggu dalam keadaan kering, tetapi mati terhadap cairan yang bersuhu 60 derajat selama 15-20 menit. Fraksi protein basil TBC menyebabkan nekrosis jaringan, sedangkan lemaknya menyebabkan sifat tahan asam dan merupakan faktor penyebab untuk terjadinya fibrosis serta terbentuknya sel epiteloid dan tuberkel.

Penularan TBC umumnya melalui udara hingga sebagian besar fokus primer tuberkulosis terdapat dalam paru. Selain melalui udara penularan dapat per oral jika meminum susu ( pada bayi ) yang mengandung basil Tuberkulosis bovis. Dapat juga terjadi dengan kontak langsung misalnya melalui luka atau lecet dikulit.

3. Tanda dan Gejala

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang umumnya menimbulkan tanda-tanda dan gejala yang sangat bervariasi pada masing-masing penderita mulai dari yang tanpa gejala hingga gejala yang sangat akut dam hanya beberapa bulan setelah diketahui sehat hingga beberapa tahun, sering tidak ada hubungan antara lamanya sakit maupun luasnya penyakit.

Sekarang digunakan klasifikasi yang membagi TBC menjadi dua stadium :

    1. Tuberkulosis primer, yang merupakan kompleks primer dan komplikasinya
    2. Tuberkulosis pasca primer.

Permulaan TB primer biasanya sulit diketahui secara klinis karena penyakit mulai secara perlahan-lahan. Gejala Tuberkulosis primer dapat berupa demam yang naik turun 1 sampai 2 minggu dengan atau tanpa batuk dan pilek. Gambaran klinik tuberkulosis primer adalah demam, batuk, anoreksia dan berat badan menurun. Kadang disertai dengan demam yang menyerupai typus abdominalis atau malaria yang disertai atau tanpa hepatosplenomegali.

Walaupun menurut gambaran klinik penyakit Tuberkulosis pada anak dapat dijumpai berbagai kelainan sesuai organ tubuh yang terkena, tetapi pada umumnya jika menjumpai anak menderita demam dengan naik turun dan lama, dengan atau tanpa batuk pilek, anoreksia, berat badan sukar naik atau bahkan menurun, maka perlu dipikirkan kemungkinan anak meenderita penyakit Tuberkulosis. Pasien memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Secara garis besar, tanda-tanda dan gejala klinik dari Tuberkulosis adalah sebagai berikut :

1. Sistemik

Malaise, anorekssia, BB turun, keringat pada waktu malam.

Akut : Demam tinggi, seperti flu, menggigil.

Milier : Demam akut, sesak nafas, sianosis.

2. Respiratorik

Batuk batuk lebih lama dari dua minggu , riak yang mukoid / mukopurulen, nyeri dad, batuk darah, dan gejala-gejala lain yaitu bila ada penyebaran ke organ-organ lain seperti pleura : nyeri pleuritik, sesak nafas ataupun gejala meningeal yaitu nyeri kepala, kaku kuduk dan lain-lain.

Disamping itu, dalam menilai gejala-gejala pada Tuberkulosis perlu dipertimbangkan hubungannya dengan fase perjalanan penyakit. Ringkasan gejala-gejala yang relevan dalam Tuberkulosis adalah :

a. Batuk – batuk dengan atau tanpa riak, lebih dari dua minggu.

b. Malaise

c. Demam ringan

d. Gejala Flu

e. Nyeri dada

f. Batuk darah.

4. Patofisiologi

Masuknya basil Tuberkulosis dalam tubuh tidak selalu menimbulkan penyakit. Terjadinya infeksi dipengaruhi oleh virulensi dan banyaknya bassil tuberkulosis serta daya tahan tubuh manusia.

Infeksi primer biasanya terjadi dalam paru. Ghon dan Kudlich ( 1930 ) menemukan bahwa 95,93 % dari 2.114 kassus mereka meempunyai fokus primer didalam paru. Hal ini disebabkan penularan sebagian besar melalui udara dan mungkin juga karena jaringan paru mudah terkena infeksi Tuberkulosis ( susceptible ).

Basil Tuberkulosis masuk kedalam paru melalui udara dan dengan masuknya basil Tuberkulosis maka terjadi eksudasi dan konsolidasi yang terbatas yang disebut fokus primer. Basil Tuberkulosis akan menyebar dengan cepat melalui saluraan getah bening menuju kelenjar regional yang kemudian akan mengadakan reaksi eksudasi. Fokus primer, limfangitis dan kelenjar getah bening regional yang membesar, membentuk kompleks primer. Kompleks primer terjadi 2-10 minggu ( 6-8 minggu ) setelah infeksi.Bersamaan dengan terbentuknya kompleks primer terjadi hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein yang dapat diketahui dari uji tuberkulin. Waktu antara terjadinya infeksi sampai terjadinya kompleks primer ini disebut masa inkubasi.

Pada anak lesi dalam paru dapat terjadi dimanapun, terutama diperiferi dekat pleura. Lebih banyak terjadi dilapangan bawah paru dari pada dilapangan atas, sedangkan pada orang dewasa lapangan paru atas merupakan tempat predileksi. Pembesaran kelenjar regional lebih banyak terjadi pada anak. Pada anak penyembuhan terutama kearah kalsifikasi, sedangkan pada orang dewasa terutama kearah fibrosis. Penyebaran hematogen lebih banyak terjkadi pada bayi dan anak kecil.

Tuberkulosis primer cenderung sembuh sendiri, tetapi sebagian akan menyebar lebih lanjut dan dapat menimbulkan komplikasi. Tuberkulosis dapat meluas dalam jaringan paru sendiri. Selain itu basil Tuberkulosis dapat masuk kedal;am aliran darah secara langsung atau melaluikelenjar getah bening. Basil Tuberkulosis dalam aliran darah dapat mati tetapi dapat pula dapat berkembang terus, hal ini tergantung pada keadaan penderita dan virulensi kuman. Melalui aliraan darah basil Tuberkulosis dapat mencapai alat tubuh lain seperti bagian paru lain, selaput otak, otak, tulang, hatu, ginjal dan lain-lain. Dalam alat tubuh tersebut, basil Tuberkulosis dapat segera menimbulkan penyakit, tetapi dapat pula menjadi tenang dulu dan setelah beberapa waktu menimbulkan penyakit atau dapar pula tidak pernah menimbulkan penyakit sama sekali.

Sebagian besar komplikasi Tuberkulosis primer terjadi dalam 12 bulan setelah terjadinya penyakit. Penyebaran hematogen atau milier dan meningitis biasanya terjadi dalam 4 bulan, tetappi jarang sekali sebelum 3 – 4 minggu setelah terjadinya kompleks primer. Efusi pleura dapat terjadi 6 – 12 bulan setelah terbentuknya kompleks primer. Komplikasi yang terjadi pada tulang dan kelenjar getah bening permukaan ( superfisial ) dapat terjadi akibat penyebaran hematogen, hingga dapat terjadi 6 bulan setelah terbentuknya kompleks primer, tetapi komplikasi ini dapat pula terjadi setelah 6 – 18 bulan ( Lincoln ). Komplikasi pada traktus urogenitalis dapat terjadi setelah bertahun-tahun. Menurut Wallgran komplikasi berupa penyebaran milier dan meningitis tuberkulosa dapat terjadi dalam 3 bulan, pleuritis dan penyebaran bronkogen dalam 6 bulan dan Tuberkulosis tulang dalam 1-5 tahun setelah terbentuknya kompleks primer.

Pembesaran kelenjar getah bening yang kena infeksi dapat menyebabkan atelektasis karena menekan bronkus hingga tampak sebagai perselubungan segmen atau lobus tengah paru kanan. Selain oleh tekanan kelenjar getah bening yang membesar, atelektasis dapat terjadi karena konstriksi bronkus pada Tuberkulosis dinding bronkus, Tuberkuloma dalam lapisan otot bronkus atau sumbatan oleh gumpalan kiju didalam lumen bronkus

6. Penatalaksanaan

Tujuan Utama Penatalaksanaan adalah :

    1. Konversi sputum positif menjadi negatif
    2. Mencegah kekambuhan
    3. Menghilangkan gejala

Pada umumnya keberhasilan pengobatan Tuberkulosis ditentukan oleh 4 faktor utama yaitu Paduan ( resimen ) obet-obet; Dosis; Keteratutan beronat dan lama pengobatan.

Farmakoterapi yang diberikan adalah :

1. Rifampisin, dengan dosis 10-15 mg/kg BB/ hari, diberikan 1 kali sehari per oral, diminum dalam keadaan lambung kosong, diberikan selama 6-9 bulan.

2. INH ( isoniazid ), bekerja bakterisidal terhadap basil yang berkembang aktif ekstra seluler dan basil didalam makrofag. Dosis INH 10 – 20 mg/kg BB/ hari per oral, lama pemberian sampai 18-24 bulan.

3. Streptomisin, bekerja bakterisidal hanya terhadap baksil yang tumbuh aktif ekstraseluler, cara memberikannya intramuskular dengan dosis 30 – 50 mg/kg BB/ hari maksimum 750 mg / hari, dinerikan setiap hari selama 1- 3 bulan dilanjutkan 2-3 kali seminggu selama 1 sampai 3 bulan lagi.

4. Pirazinamid, bekerja bakterisidal terhadap basil intraseluler, dosis 30-35 mg/kg BB/ hari per ral 2 kali sehari selama 4 – 6 bulan.

5. Etambutol, Dosis 20 mg/kg BB/ hari dalam keadaan lambung kosong, 1 kali sehari selama 1 tahun.

6. PAS ( para-aminosalisilat ) sebagai bakteriostatik, dosisnya 200-300 mg/kg BB/hari, secara oral 2-3 kali sehari.

7. Kortikosteroid, diberikan bersama-sama dengan OAT yang masih sensitif. Diberikan dalam bentuk kortison dengan dosis 10-15 mg /kg BB/hari.

Umumnya pengobatan Tuberkulosis dilaksanakan dalam 2 tahap :

  1. Tahap inisial yang bertujuan untuk membunuh kuman secepat dan sebanyak mungkin, menghentikan pertumbuhan kuman, mencegah resistensi obat, dengan menggunakan 2 atau lebih baik lagi 3 obat selama 1 – 3 bulan.
  2. Tahap lanjutan yang bertujuan untuk mematikan / melumpuhkan kuman yang masih tersisa atau yang tumbuh kemudian dengan menggunakan dua obat untuk sisa waktu selanjutnya.

Selain tersebut diatas, ada juga dua jenis prinsip pengobatan Tuberkulosis, yaitu :

  1. Pengobatan standard
    1. Tahap intensif tiap hari selama 1 bulan

SM 0,75 gr + INH 400 mg + Vitamin B6 10 mg

    1. Tahap berkala ( intermitten ) 2 x seminggu, selama 11 bulan

SM 0,75 gr + INH 700 mg = Vit B6 10 mg

  1. Pengoobatan jangka pendek
    1. Tahap Intensif tiap hari selama 4 minggu

RRFP 450 mg + INH 400 mg + EMB 1 gr + Vit B6 10 mg diberikan pagi hari sebelum makan

    1. Tahap berkala selama 22 minggu

RFP 600 mg + INH 700 mg + Vitamin B6 10 mg

Tidak ada komentar: