TINA_DATE
Sabtu, 03 September 2011
MENINGITIS
BAB I
Meningitis atau radang selaput otak saat ini adalah penyakit yang paling ditakuti para ibu. Penyakit ini adalah ‘’pembunuh” nomor satu para bayi. Angka kematiannya mencapai 18 sampai 40 persen kasus. Gejalanya seringkali samar, nyaris sama dengan flu biasa, sehingga banyak bayi mungil tidak tertolong karena terlambat ditangani.
Meningitis paling berbahaya jika menyerang anak di bawah usia satu tahun. Karena anak seumur itu daya tahannya belum kuat. Salah satunya meningitis atau radang selaput otak. Penyebabnya bisa virus, bakteri, jamur, bahkan parasit.
Penyakit ini bisa dikenali dengan beberapa gejala khusus, yaitu demam, kejang, dan menurunnya kesadaran si anak. Jadi, kalau anak demam dan terlihat lemas dan susah dibangunkan, apalagi jika ada kejang-kejang yang berulang, segera bawa ke dokter atau rumah sakit. di samping gejala-gejala khusus tadi, ada juga gejala lainnya. Misalnya terjadi nyeri kepala, muntah, dan anak menjadi sensitif atau mudah silau terhadap cahaya.
Tapi yang paling banyak menjadi pemicu meningitis yakni infeksi saluran pernafasan. Selain bisa menyebabkan kematian, meningitis juga bisa mengakibatkan kecacatan pada anak. Yang paling sering terjadi yakni gangguan berbicara, lemah anggota gerak, sampai retradasi mental.
BAB II
ISI
A. DEFINISI
Meningitis adalah suatu infeksi/peradangan dari meninges,lapisan yang tipis/encer yang mengepung otak dan jaringan saraf dalam tulang punggung, disebabkan oleh bakteri, virus, riketsia, atau protozoa, yang dapat terjadi secara akut dan kronis. (Harsono., 2003)
Meningitis adalah infeksi yang menular. Sama seperti flu, pengantar virus meningitis berasal dari cairan yang berasal dari tenggorokan atau hidung. Virus tersebut dapat berpindah melalui udara dan menularkan kepada orang lain yang menghirup udara tersebut. (Anonim., 2007)
B. ETIOLOGI
Penyebab infeksi ini dapat diklasifikasikan atas : Penumococcus, Meningococcus, Hemophilus influenza, Staphylococcus, E.coli, Salmonella. (Japardi, Iskandar., 2002)
Penyebab meningitis terbagi atas beberapa golongan umur :
- Neonatus : Eserichia coli, Streptococcus beta hemolitikus, Listeria monositogenes
- Anak di bawah 4 tahun : Hemofilus influenza, meningococcus, Pneumococcus.
- Anak di atas 4 tahun dan orang dewasa : Meningococcus, Pneumococcus. (Japardi, Iskandar., 2002)
C. ANATOMI FISIOLOGI
Otak dan sumsum otak belakang diselimuti meningea yang melindungi struktur syaraf yang halus, membawa pembuluh darah dan dengan sekresi sejenis cairan yaitu cairan serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu:
1. Pia meter
Yang menyelipkan dirinya ke dalam celah pada otak dan sumsum tulang belakang dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat akan menyediakan darah untuk struktur-struktur ini.
2. Arachnoid
Merupakan selaput halus yang memisahkan pia meter dan dura meter.
3. Dura meter
Merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat.
D. MANIFESTASI KLINIS
Keluhan pertama biasanya nyeri kepala. Rasa ini dapat menjalar ke tengkuk dan punggung. Tengkuk menjadi kaku. Kaku kuduk disebabkan oleh mengejangnya otot-otot ekstensor tengkuk. Bila hebat, terjadi opistotonus, yaitu tengkuk kaku dalam sikap kepala tertengadah dan punggung dalam sikap hiperekstensi. Kesadaran menurun. Tanda Kernig’s dan Brudzinky positif. (Harsono., 2003)
E. GEJALA
Gejala meningitis tidak selalu sama, tergantung dari usia si penderita serta virus apa yang menyebabkannya. Gejala yang paling umum adalah demam yang tinggi, sakit kepala, pilek, mual, muntah, kejang. Setelah itu biasanya penderita merasa sangat lelah, leher terasa pegal dan kaku, gangguan kesadaran serta penglihatan menjadi kurang jelas. Gejala pada bayi yang terkena meningitis, biasanya menjadi sangat rewel, muncul bercak pada kulit, tangisan lebih keras dan nadanya tinggi, demam ringan, badan terasa kaku, dan terjadi gangguan kesadaran seperti tangannya membuat gerakan tidak beraturan. (Japardi, Iskandar., 2002)
F. DIAGNOSIS
Untuk menentukan diagnosis meningitis dilakukan tes laboratorium. Tes ini memakai darah atau cairan sumsum tulang belakang. Cairan sumsum tulang belakang diambil dengan proses yang disebut pungsi lumbal ( lumbar puncture atau spinal tap). Sebuah jarum ditusukkan pada pertengahan tulang belakang, pas di atas pinggul. Jarum menyedap contoh cairan sumsum tulang belakang. Tekanan cairan sumsum tulang belakang juga dapat diukur. Bila tekanan terlalu tinggi, sebagian cairan tersebut dapat disedot. Tes ini aman dan biasanya tidak terlalu menyakitkan. Namun setelah pungsi lumbal beberapa orang mengalami sakit kepala, yang dapat berlangsung beberapa hari. (Ellenby, Miles., Tegtmeyer, Ken, et al., 2006)
G. PENGOBATAN
Meningitis dapat diobati dengan obat anti jamur, seperti:
1. Flukonazol : berbentuk pil atau suntikan dalam pembuluh darah (intravena/IV)
2. Itrakonazol : dipakai pada orang yang tidak tahan dengan flukonazol.
3. Amfoterisin B : obat yang sangat manjur, tetapi obat ini dapat merusak ginjal, obat ini disuntikkan atau diinfus secara perlahan, memiliki efek samping yang parah tetapi dapat dikurangi dengan memakai obat semacam ibuprofen. (Yayasan Spiritia., 2006)
H. TIPE MENINGITIS
1. Meningitis Kriptikokus
adalah meningitis yang disebabkan oleh jamur kriptokokus. Jamur ini bisa masuk ke tubuh kita saat kita menghirup debu atau tahi burung yang kering. Kriptokokus ini dapat menginfeksikan kulit, paru, dan bagian tubuh lain. Meningitis Kriptokokus ini paling sering terjadi pada orang dengan CD4 di bawah 100.
Diagnosis
Darah atau cairan sumsum tulang belakang dapat dites untuk kriptokokus dengan dua cara. Tes yang disebut ‘CRAG’ mencari antigen ( sebuah protein) yang dibuat oleh kriptokokus. Tes ‘biakan’ mencoba menumbuhkan jamur kriptokokus dari contoh cairan. Tes CRAG cepat dilakukan dan dapat memberi hasi pada hari yang sama. Tes biakan membutuhkan waktu satu minggu atau lebih untuk menunjukkan hasil positif. Cairan sumsum tulang belakang juga dapat dites secara cepat bila diwarnai dengan tinta India. (Yayasan Spiritia., 2006)
2. Viral meningitis
termasuk penyakit ringan. Gejalanya mirip dengan sakit flu biasa, dan umumnya si penderita dapat sembuh sendiri. Frekuensi viral meningitis biasanya meningkat di musim panas karena pada saat itu orang lebih sering terpapar agen pengantar virus. Banyak virus yang bisa menyebabkan viral meningitis. Antara lain virus herpes dan virus penyebab flu perut. (Anonim., 2007)
3. Bacterial meningitis
disebabkan oleh bakteri tertentu dan merupakan penyakit yang serius. Salah satu bakterinya adalah meningococcal bacteria. Gejalanya seperti timbul bercak kemerahan atau kecoklatan pada kulit. Bercak ini akan berkembang menjadi memar yang mengurangi suplai darah ke organ-organ lain dalam tubuh dapat berakibat fatal dan menyebabkan kematian. (Anonim., 2007)
4. Meningitis Tuberkulosis Generalisata
Gejala : demam, mudah kesal, obstipasi, muntah- muntah, ditemukan tanda-tanda perangsangan meningen seperti kaku kuduk, suhu badan naik turun, nadi sangat labil/lambat, hipertensi umum, abdomen tampak mencekung, gangguan saraf otak.
Penyebab : kuman mikobakterium tuberkulosa varian hominis.
Diagnosis : Meningitis Tuberkulosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan cairan otak, darah, radiologi, test tuberkulin. (Harsono., 2003)
5. Meningitis Purulenta
Gejala : demam tinggi, menggigil, nyeri kepala yang terus-menerus, kaku kuduk, kesadaran menurun, mual dan muntah, hilangnya nafsu makan, kelemahan umum, rasa nyeri pada punggung serta sendi.
Penyebab: Diplococcus pneumoniae(pneumokok), Neisseria meningitidis(meningokok), Stretococcus haemolyticus, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Pneudomonas aeruginosa.
Diagnosis : dilakukan pemeriksaan cairan otak, antigen bakteri pada cairan otak, darah tepi, elektrolit darah, biakan dan test kepekaan sumber infeksi, radiologik, pemeriksaan EEG. (Harsono., 2003)
I. CARA PENCEGAHAN
Kebersihan menjadi kunci utama proses pencegahan terjangkit virus atau bakteri penyebab meningitis. Ajarilah anak-anak dan orang-orang sekitar untuk selalu cuci tangan, terutama sebelum makan dan setelah dari kamar mandi. Usahakan pula untuk tidak berbagi makanan, minuman atau alat makan, untuk membantu mencegah penyebaran virus. Selain itu lengkapi juga imunisasi si kecil, termasuk vaksin-vaksin seperti HiB, MMR, dan IPD. ( Japardi, Iskandar., 2002 )
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Apa Itu Meningitis. Meningococcus URL : http://www.bluefame.com/lofiversion/index-php/t47283.html
Ellenby, Miles., Tegtmeyer, Ken., Lai, Susanna., and Braner, Dana. 2006.
Lumbar Puncture. The New England Journal of Medicine. 12 : 355 URL : http://content.nejm.org/cgi/reprint/355/13/e12.pdf
Harsono. 2003. Meningitis. Kapita Selekta Neurologi. 2 URL : http://www.uum.edu.my/medic/meningitis.htm
Japardi, Iskandar. 2002. Meningitis Meningococcus. USU digital library URL : http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi23.pdf
Quagliarello, Vincent J., Scheld W. 1997. Treatment of Bacterial Meningitis. The New England Journal of Medicine. 336 : 708-16 URL : http://content.nejm.org/cgi/reprint/336/10/708.pdf
Sabtu, 27 Agustus 2011
ASI EKSKLUSIF
A. PENGERTIAN
Menurut WHO, ASI Eksklusif adalah air susu ibu yang diberikan pada enam bulan pertama bayi baru lahir tanpa adanya makanan pendamping lain. ( www.tabloid- nakita.com, 2005 )
Menurut laporan tahun 2000 WHO, ± 15 % bayi di seluruh dunia diberi ASI eksklusif selama 4 bulan dan seringkali pemberian makanan pendamping ASI tidak sesuai dan tidak aman sehingga menyebabkan ± 1, 5 juta anak meninggal karena pemberian makanan yang tidak benar.
B. MANFAAT ASI EKSKLUSIF
Ditinjau dari aspek gizi
Ø Kandungan gizi lengkap
Ø Mudah dicerna dan diserap
Ø Mengandung lipase untuk pencernaan lemak
Ø Mempertinggi penyerapan kalsium
Ø Mengandung zat kekebalan tubuh (imunitas)
Ditinjau dari aspek psikologis
Ø Mendekatkan hubungan ibu dan bayi
Ø Menimbulkan rasa aman bagi bayi
Ø Mengembangkan dasar kepercayaan (Basic sence of trust)
Ditinjau dari aspek KB
Ø Menunda kembalinya kesuburan
Ø Menjarangkan kehamilan
Bagi ibu
Ø Mengurangi insiden kanker leher rahim dan kanker payudara
Ø Mengurangi insiden HPV (Human Papilo Virus)
Ø Mempercepat involusi uterus
Bagi keluarga
Ø Aspek Ekonomi : hemat karena tidak membeli susu formula dan bayi jarang sakit sehingga biaya pengobatan dapat dihemat
Ø Aspek kemudahan : tidak perlu mengganggu orang lain
Bagi bangsa dan negara
Ø Menurunkan angka kematian dan kesakitan anak
Ø Mengurangi subsidi rumah sakit untuk perawatan ibu dan anak
Ø Meningkatkan kualitas generasi penerus
C. LARANGAN PEMBERIAN ASI
Sekalipun upaya untuk memberikan ASI digalakkan tetapi pada beberapa kasus pemberian ASI tidak dibenarkan yaitu :
1. Faktor Ibu
Ø Ibu dengan penyakit jantung yang berat karena akan menambah beratnya penyakit ibu.
Ø Ibu dengan pre eklampsi dan eklampsi karena banyaknya obat-obatan yang diberikan sehingga dapat mempengaruhi bayinya.
Ø Penyakit infeksi berat pada payudara, sehingga kemungkinan menular pada bayinya
Ø Karsinoma payudara mungkin dapat menimbulkan menimbulkan metastasis
Ø Ibu dengan psikosis, dengan pertimbangan kesadaran ibu sulit diperkirakan sehingga dapat membahayakan bayi.
Ø Ibu dengan infeksi virus.
Ø Ibu dengan TBC atau lepra.
2. Faktor Bayi
Ø Bayi dalam keadaan kejang-kejang yang dapat menimbulkan bahaya aspirasi ASI
Ø Bayi yang menderita sakit berat dengan pertimbangan dokter anak tidak dibenarkan untuk mendapatkan ASI
Ø Bayi dengan berat badan lahir rendah, karena refleks menelannya sulit sehingga bahaya aspirsi mengancam
Ø Bayi dengan cacat bawaan yang tidak mungkin menelan (labiokisis, palatoknakisis, labioknatopalatokisis)
Ø Bayi yang tidak menerima ASI, penyakit metabolisme seperti alergi ASI
Pada kasus tersebut di atas untuk memberikan ASI sebaiknya dipertimbangkan dengan dokter anak.
3. Patologis Payudara
Pada rawat gabung dapat diharapkan bahwa kemungkinan stagnasi ASI yang dapat menimbulkan infeksi dan abses dapat dihindari.sekalipun demikian masih ada keadaan patologis payudara yang memerlukan konsultasi dokter sehingga tidak merugikan ibu dan bayinya. Keadaan patologis yang memerlukan konsultasi adalah :
Ø Infeksi payudara
Ø Terdapat abses yang memerlukan insisi
Ø Terdapat benjolan payudara yang membesar saat hamil dan menyusui
Ø ASI yang bercampur dengan darah
D. CARA PEMBERIAN
Dalam memberikan ASI Eksklusif, sebaiknya memperhatikan hal – hal di bawah ini :
Teknik menyusui
Teknik menyusui perlu diperhatikan, karena sangat menentukan keberhasilan dalam mempertahahankan menyusui dan memperbanyak produksi ASI
Posisi ibu menyusui
Ø Duduklah dengan posisi enak dan santai kalau perlu pakailah kursi yang ada sandaran punggung dan lengan
Ø Gunakan bantal untuk mengganjal bayi, agar jarak bayi tidak terlalu jauh dari payudara
Memasukkan putting susu
Ø Bila menyusukan mulai dengan payudara kanan, letakkanlah kepala bayi pada siku bagian dalam lengan kanan, badan bayi mengahadap ke badan ibu
Ø Lengan kiri bayi di letakkan di seputar pinggang ibu, tangan kanan ibu memegang pantat / paha kanan bayi
Ø Sanggahlah payudara kanan ibu dengan keempat jari tangan kiri dibawahnya, dan ibu jari diatasnya, tetapi tidak diatas bagian yang berwarna hitam ( aerola mamae )
Ø Sentuhlah mulut bayi dengan putting susu
Ø Tunggu sampai bayi membuka mulut lebar-lebar
Ø Masukkan putting susu secepatnya kedalam mulut sampai daerah berwarna hitam
Melepaskan hisapan bayi
Setelah selesai menyusukan bayi selama 10 menit, lepaskanlah isapan bayi dengan cara :
Ø Masukkan jari kelingking ibu yang bersih ke sudut mulut bayi atau
Ø Dengan menekan dagu bayi kebawah
Ø Dengan menutup lubang hidung bayi
Ø Jangan menarik putting susu untuk melepaskannya
Menyendawakan bayi
Setelah hisapan bayi dilepaskan . sendawakan bayi sebelum menyusukan dengan payudara yang lain, dengan cara :
Ø Sandarkan bayi dipundak ibu tepuklah punggungnya dengan pelan sampai keluar sendawa
Ø Bayi ditelungkupkan dipangkuan ibu, sambil digosok punggungnya.
Tanda-tanda menyusui yang benar
Ø Bayi cukup tenang
Ø Mulut bayi terbuka lebar
Ø Bayi menempel betul pada ibu
Ø Mulut dan dagu bayi menempel betul pada payudara ibu
Ø Seluruh areola tertutup mulut bayi
Ø Bayi nampak pelan-pelan menghisap dengan kuat
Ø Putting susu ibu tidak terasa nyeri
Ø Kuping dengan lengan bayi berada pada satu garis
Ø Posisi ibu menyusui duduk, berbaring, berdiri dan digendong
Hal-hal yang perlu diingat
Ø Susukanlah bayi dengan kedua payudara secara bergantian
Ø Sebelum menyusui minumlah 1 gelas air putih / teh
Ø Selama menyusui berikanlah perhatian yang penuh pada bayi
E. MASALAH DALAM MENYUSUI
1. Asi Kurang
Seringkali ibu merasa produksi ASInya kurang padahal sebenarnya tidak, apalagi bila bayinya seing menangis, ibu tergesa-gesa ingin memberikan tambahan susu formula.
Penanggulangannya :
Ø Ibu harus mengkonsumsi makanan yang bergizi
Ø Menyusuilah dengan sabar
Ø Menyusui secara bergantian antara kedua payudara
Ø Minimalkan penggunaan alat (misal : dot) karena akan membingungkan bayi dan akhirnya mengurangi rangsangan untuk memproduksi ASI
2. Bayi Bingung Putting
Bayi yang mendapatkan susu formula bergantian dengan ASI akan mengalami nipple confusion sehingga waktu menyusu ibunya sering terputus-putus bahkan kadang-kadang menolak menyusu ibunya.
Penanggulangan :
Ø Ibu harus mengusahakan pemberian ASI eksklusif
Ø Menyusui dengan cara yang benar
Ø Menyusui lebih lama dan sering
3. Payudara Bengkak
Pada hari-hari pertama, seringkali menyusui kurang efektif sehingga ASI mengumpul di dalam payudara, menekan pembuluh darah dan saluran limfe. Hal ini mengakibatkan payudara menjadi bengkak dan nyeri.
Untuk menghindari hal tersebut lakukanlah :
Ø Susui bayi segera setelah bayi lahir
Ø Susui menurut kehendak bayi, jangan dijadwalkan
Ø Susui bayi dengan menggunakan tehnik menyususi yang benar
Ø Keluarkan sisa ASI dengan tangan atau pompa
Penanggulangan :
Ø Bayi disusukan untuk menghindari pembengkakan
Ø Berikan kompres dingin untuk menguragi nyeri
Ø Lakukan pengurutan atau massage payudara
4. Putting Susu Nyeri Atau Lecet
Rasa nyeri timbul karena waktu menyusui hanya putting susu yang masuk ke dalam mulut bayi sedangkan areola tidak masuk mulut. Disamping itu juga disebabkan karena perawatan yang tidak benar pada payudara.
Penanggulangan :
Ø Lakukan tehnik menyususi yang benar
Ø Menyususi pada payudara yang tidak lecet
Ø Jangan membersihkan putting dengan sabun atau alcohol
5. Mastitis
Mastitis adalah peradangan payudara akibat infeksi. Biasanya terjadi pada minggu-minggu pertama setelah melahirkan yang tersumbat atau luka pada putting yang terinfeksi.
Penanggulangan :
Ø Kompres air hangat
Ø Ibu tetap menyusui bayinya pada payudara yang tidak terinfeksi
Ø Cukup istirahat
Ø Minum air putih minimal 2 liter/hari
Ø Minum anti biotik
Lakukan perawatan payudara
PERSALINAN NORMAL
A. PENGERTIAN
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar.
(Sarwono Prawiroraharjo, 2002)
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir.
(Ida Bagus Gde Manuaba, 1998)
B. TANDA TANDA PERSALINAN
1. Kekuatan his semakin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontrasi yang semakin pendek.
2. Dapat terjadi pengeluaran pembawa tanda yaitu :
a. Pengeluaran lendir
b. Lendir bercampur darah.
3. Dapat disertai ketuban pecah.
4. Pada pemeriksaan dalam dijumpai perubahan servik :
a. Pelunakan servik
b. Pendataran servik
c. Terjadi pembukaan servik.
C. FAKTOR-FAKTOR DALAM PERSALINAN
1. Power
a. His
b. Kontraksi dinding otot abdomen
c. Kontraksi diagfagma
2. Passanger
a. Janin dan placenta
3. Passage
a. Jalan lahir lunak dan jalan lahir tulang
D. TANDA-TANDA PERSALINAN SUDAH DEKAT
1. Terjadi Lightening
a. Kontraksi braxton his
b. Ketegangan ligamentum rotundum
c. Gaya berat janin, kepala kearah bawah
d. Ketegangan dinding perut
2. Terjadi His permulaan
E. PEMBAGIAN PERSALINAN
1. Kala I
2. Kala II
3. Kala III
4. Kala IV
Persalinan Kala I
Persalinan kala I adalah dimulainya his yang teratur sampai pembukaan lengakap. Pada permulaan his, kala pembukaan berlangsung tidak begitu kuat sehingga pasien masih dapat berjalan-jalan. Lama persalinan kala I untuk primigravida berlangsung kuarang lebih 12 jam sedang multigravida sekitar 8 jam.
Proses membukanya servik sebagai akibat his dibagi dalam 2 fase :
1. Fase laten, berlangsung selama 8 jam, pembukaan terjadi sangat sampai mencapai ukuran diameter 3 cm.
2. Fase aktif, dibagi dalam 3 fase, yaitu :
a. Fase akslerasi: dalam waktu 2 jam pembukaan 3-4 cm.
b. Fase dilatasi maksimal: dalam waktu 2 jam, pembukaan 4-9 cm.
c. Fase deselerasi: Pembukaan menjadi lambat kembali, 2 jam pembukaan 9 cm- lengkap
Persalinan Kala II
1. His semakin kuat, dengan interval 2-3 menit dengan durasi 50-100 detik.
2. Menjelang akhir kala I ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran cairan sec mendadak.
3. Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap, diikuti keadaan mengejang.
4. Kedua kekuatan, his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga terjadi :
a. Kepala membuka pintu.
b. Sub occiput bertindak sebagai hipomaglian berturut-turut lahir ubun-ubun besar, dahi, hidung, muka dan kepala menyeluruh.
5. Kepala lahir seluruhnya dan ikuti oleh putaran paksi luar yaitu penyusunan kepala pada punggung.
6. Setelah paksi luar berlangsung, maka persalinan bayi ditolong dengan jalan : kepala dipegang pada os. Occiput dan dibawah dagu, ditarik curam bawah untuk melahirkan bahu depan dan kemudian curam keatas untuk melahirkan bahu belakang. Setelah kedua bahu lahir ketiak diikat untuk melahirkan sisa badan bayi, bayi lahir diikuti oleh sisa air ketuban.
7. Lama kala II untuk primigravida 50 menit dan multigravida 30 menit.
Persalinan Kala III (Pelepasan Plasenta)
Setelah kala II, kontraksi uterus berhenti sekitar 5-10 menit. Dengan lahirnya bayi, sudah mulai pelepasan plasenta pada lapisan nitabusch, karena sifat relaksasi otot rahim. Lepasnya plasenta sudah dapat diperkirakan dg memperhatikan tanda-tanda dibawah ini :
1. Uterus menjadi bundar
2. Uterus terdorong keras, plasenta dilepaskan kesegmen bawah bawah rahim
3. Tali pusat bertambah panjang
4. Terjadi perdarahan
Persalinan Kala IV (Observasi)
1. Kala IV dimaksudkan untuk melakukan observasi karena perdarahan post partum paling sering pada 2 jam pertama.
2. Observasi yang dilakukan :
a. Tingkat kesadaran penderita
b. Pemeriksaan TTV : TD, N, S, Rr
c. Kontraksi uterus
d. Terjadi perdarahan
F. ETIOLOGI PERSALINAN
Teori tentang dimulainya persalinan setelah janin cukup bulan, masih merupakan teori yg kompleks dan sulit dicari mana yg sebenarnya paling dominan tetapi ada beberapa teori, yaitu :
1. Teori penurunan progesteron
Pada saat ibu hamil terjadi perubahan keseimbangan estrogen progesteron yg menimbulkan kontraksi braxton hicks yg selanjutnya akan bertindak sebagai kontraksi persalinan.
2. Teori oksitosin
Menjelang persalinan terjadi peningkatan reseptor oksitosin dalam otot rahim, sehingga mudah terangsang saat disuntikkan oksitoksin dan menimbulkan kontraksi.
3. Teori keregangan otot rahim
Induksi persalinan dalam dilakukan dengan memecahkan ketuban, sehingga keregangan otot rahim makin pendek dan kekuatan untuk berkontraksi makin meningkat.
4. Teori janin
Sinyal yang diarahkan kepada maternal sebagai tanda bahwa janin telah siap lahir, belum diketahui dengan pasti kenyataannya menunjukkan bila terdapat anomali hipofisis dan kelenjar suprarenal, persalinan akan menjadi lebih lambat.
5. Teori prostaglandin
Prostaglandin dpt melunakkan servik dan merangsang kontraksi bila diberikan dalam bentuk infus peras atau secara intra vaginal
G. PEMERIKSAAN FISIK
1. Tekanan darah, suhu, nadi, pernapasan
2. Fundus: rasakan apakah fundus berkontraksi kuat dan gimana frekuensinya.
3. Placenta: kelengkapannya untuk memastikan tidak ada bagian yang tersisa.
4. Selaput ketuban: periksa kelengkapannya untuk memastikan tidak ada bagian yang tersisa.
5. Perineum: periksa luka robekan pada perineum dan vagina yang membutuhkan jahitan.
6. Memperkirakan pengeluaran darah yang menyerap pada kain atau dg menentukan berapa banyak kantong darah 500 cc dapat berisi.
7. Lockhea: periksa apakah ada darah keluar langsung pada saat pada saat pemeriksaan uterus.jika uterus berkontraksi keras/kuat,lochea kemungkinan tidak lebih dari menstruasi.
8. Kandung kemih: periksa untuk memastikan kandung kemih tidak penuh, kandung kemih yang penuh mendorong uterus keatas dan menghalangi uterus berkontraksi sepenuhnya.
9. Kondisi ibu: jika kondisi ibu tidak stabil pantau ibu lebih sering.
10. Kondisi BBL
H. PENGKAJIAN FOKUS
1. Aktifitas/Istirahat
Dapat tampak,berenergi/kelelahan,mengantuk
2. Sirkulasi
a. Nadi biasannya lambat karena hipersensitifitas gagal.
b. Tekanan darah bervariasi,lebih rendah pada analgesia,anastesia atau meningkat pada pemberian oksitosin/hipertensi dalam kehamilan
c. Endema bila ada
d. Kehilangan darah selama persalinan
3. Integritas Ego
a. Reaksi emosional bervariasi dan dapat berubah-ubah,misal=perilaku menunjukan kurang kedekatan,tidak berminat/kelelahan/kecewa
b. Dapat mengekspresikan masalah/meminta maaf untuk perilaku intra partum/kehilangan kontrol dapat mengekspresikan rasa takut mengenal kondisi BBL dan perawatan secara segera pada neonatal
4. Hemoroid/Eliminasi
a. Kandung kemih teraba diatas simpisis pubis/kateter urinarius mungkin dipasang.
b. Diuresis dapat terjadi apabila tekanan bagian presentasi menghambat aliran urinarius dan cairan IV diberikan selama persalinan dan kehamilan
5. Makanan/Cairan
Dapat mengeluh lapar/ haus atau mual.
6. Neurosensori
Sensasi dan gerak ekstrimitas bawah menurun pada adanya ansietas spinal atau analgetik kaudal/epidural.
7. Nyeri/Ketidaknyamanan.
Dari berbagai sumber dapat melaporkan ketidaknyamanan misal: setelah nyeri, trauma jaringan atau perbaikan episiotomi, atau perasaan dingi/otot tremor menggigil.
8. Keamanan
a. Suhu tubuh meningkat sedikit ( pergerakan tenaga, dehidrasi
b. Perbaikan episiotomi utuh dng tepi jaringan merata.
9. Seksualitas
a. Fundus keras terkontraksi, pada garis tengah dan terletak setinggi umbilikus.
b. Drainase vagina/ lokhea jumlahnya sedang, merah gelap dng hanya beberapa bekuan kecil ( sampai ukuran plam kecil ).
c. Perinium bebas dari kemerahan, edema, ekimosis, atau rabas.
d. Strie mungkin ada pada abdomen, paha, payndara.
e. Payudara lembek lunak dgn putting tegang.
I. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Hemoglobin/hematokrit ( Hb/Ht )
2. Jumlah darah lengkap
3. Urinarius
J. PRIORITAS KEPERAWATAN
1. Meningkatkan kesatuan dan ikatan kerja.
2. Mencegah/ mengontrol perdarahan.
3. Meningkatkan kenyamanan.
Langganan:
Entri (Atom)
