Minggu, 30 Agustus 2009
Ada beberapa pendapat mengenai autism. Pendapat tersebut dapat di lihat dari:
Autisme berasal dari kata “autos”yang artinya segala sesuatu yang mengarah pada dirinya sendiri.
(Media Sehat, Juli 2006 : 7)
Autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan atu realita kehidupan sehari-hari.
(Kamus Psikologi Umum : 2511)
Autisme adalah suatu kelainan pada anak-anak yang ditandai oleh keterampilan social yang buruk, kesulitan komunikasi, perkembangan bahasa yang buruk, fantasi, isolasi dan penarikan diri.
(Christine Brooker edisi 31)
Atisme adalah gangguan perkembangan dari fungsi serebral,khususnya yang mengatur kemampuan interaksi social dan gangguan komunikasi.
(Dr.st.Dion Santoso, SpRm.)
B. Diagnosa Dini Autisme
Pada bayi yang terkena gangguan ini tidak akan merespon walau sudah dirangsang oleh sekitarnya. Pada anak yang lebih besar gangguan ini akan lebih jelas terlihat seperti :
a. Gangguan komunikasi verbal maupun non verbal, yang dapat berupa terlambatnya berbicara atau menggunakan “bahasa planet”, kata-katanya susah dimengerti, ekspresinya datar.
b. Gangguan interaksi social. Berupa gejala menghindari tatapan mata, tidak menoleh jika dipanggil, tidak suka dipeluk.
c. Gangguan Perilaku. Yang berupa tatapan mata kosong, sering memukul kepalanya sendiri, bengong, dapat terlihat hiperaktif.
d. Gangguan pada Bidang Perasaan atau Emosi. Berupa marah bila keinginannya tidak terpenuhi, kurang empati.
e. Gangguan dalam Bidang Persepsi Sensori. Seperti mencium-cium dan menggigit mainannya sendiri, bila mendengar sesuatu tertentu langsung menutup telinga, mencium/menggigit mainannya sendiri.
C. Penyebab dan Akibat
Autisme tidak disebabkan factor psikologis melainkan disebabkan oleh gangguan multifactor seperti factor genetic, metabolic, dll. Tapi penyebab yang pasti hingga kini belum diketahui. Bahkan teori saat ini menyatakan bahwa gangguan autisme ini mempunyai dasar kelainan organic di otak yang di cetuskan oleh berbagai factor seperti factor genetic, gangguan metabolic, imunologi dan lingkungan.
Akibat gangguan multifactor anak penyandang autisme menjadi :
1. Lebih suka bermain dengan dirinya sendiri atau mainanya saja.
2. Tidak bisa membagi kesenangan atau kesedihan dengan orang lain.
3. Tidak menoleh jika dipanggil
4. Suka memukul-mukul kepalanya sendiri
5. Kurang empati, simpati dan toleransi.
6. Menghindari tatapan mata
7. Tidak menyukai rabaan dan pelukan
8. Jika inginkan sesuatu dia akan menarik tangan orang lain yang ada di sekitarnya.
9. Bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga.
10. Kadang terlihat bengong sekali, tatapan mata kosong.
D. Ciri-ciri penyandang autisme
Dilihat dari Berat atau Ringan tingkat kelainannya dapat disimpulkan bahwa tingkat kelainannya yang paling ringan adalah kelainan perilaku yang umumnya disandang oleh anak autisme. Karena secara jasat mata keadaan pertumbuhan fisik dapat dikatakan normal. Kelainan perilaku seperti suka menyendiri, selalu menghindari tatapan mata dan terkesan sangat aktif sehingga suka menyentuh/memegang yang ada disekitarnya.
Kelainan yang tergolong Berat adalah anak tersebut mengalami pertumbuhan fisik yang serius seperti mengalami kekuatan otot kaki/tangan, kelemasan otot kaki/tangan, sehingga tidak dapat menggerakan kedua kaki dan tangannya. Kelainan fisik lainnya juga terlihat pada tampilan raut muka seperti terlihat pada penyandang syndrome Down.
E. Terapi dan Rehabilitasi Dini
Tindak terapeutik penyandang autisme kegiatan utamanya yaitu tindak perawatan yang berupaya memulihkan kenormalan fungsi organ tubuh yang mengalami kelainan sehingga dapat mengembangkan kemampuan anak untuk mandiri. Adapun tujuan umumnya adalah meningkatkan kemampuan bahasa dan interaksi social, mengurangi masalah perilaku, juga memberi dukungan pada orangtua atau keluarganya dalam penyesuaian dengan kondisi anak dan dalam mengupayakan pendidikan anak dan meningkatkan kemandirian dalam melakukan aktivitas sehari-hari terutama dalam perawatan dini.
Modal terapi autisme meliputi terapi medika mentosa (obat-obatan), terapi psikologik, terapi wicara, terapi okupasi, fisioterapi, terapi sensori integrasi dan terapi dietetic (nutrisi)
F. Program Perawatan dan Pengrehabilitasi Dini.
Untuk meningkatkan efektifitas pengentasan kelainan pertumbuhan anak, upaya perawatan remedial difokuskan pada bayi autisme usia 6-8 bulan. Keberhasilan program ini, karena usia dan sifat kelainan, sangat membutuhkan dukungan, bantuan dan peran serta orang tua dalam proses perawatan remedial ini. Peran aktif orang tua akan memudahkan perawatan dan pentembuhan yang intensif karena dapat bertindak selaku pengamat dan penilai atas efektifitas metode penyembuhan yang dijalankan secara berlanjut.
Secara sistematis tindakan rehabilitas dapat dibagi beberapa tahapan yaitu:
1. Rehabilitasi Dasar (Basic atau Physical Rehabilitation)
Diprogramkan untuk menormalisasikan damapk umum dari gagal fungsional suatu organ tubuh.
2. Rehabillitasi Fungsional (Functional Rehabilitation)
Tindakan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian tindakan rehabilitasi sebelumnya. Tindakan pemlihan akan terfokus pada dampak kelainan rasional suatu organ terhadap organ tubuh lainnya, termasuk fungsi kelenjar dan hormone terkait.
3. Rehabilitasi Perilaku (Behavioral Rehabilitation)
Rehabilitasi ini mengutamakan keselarasan fungsional organ tubuh dengan mental emosional dan tingkat kecerdasan anak. Pada tahap ini diupayakan agar dapat mengembangkan kepribadiannya secara utuh dan selaras.
Memandikan Pasien Di Tempat Tidur
Pengertian :
Membersihkan tubuh pasien dengan menggunakan air bersih dan sabun.
Tujuan :
1. Membersihkan kulit dan menghilangkan bau badan
2. Memberikan rasa nyaman
3. Merangsang peredaran darah
4. Sebagai pengobatan
5. Mencagah infeksi kulit
6. Mendidik pasien dalam kebersihan perseorangan.
Dilakukan :
1. Pada pasien baru, terutama bila kotor sekali dan keadaan umumnya memungkinkan.
2. Pada pasien yang dirawat, sekurang-kurangnya dua kali sehari dengan kondisinya.
Persiapan :
Persiapan Alat :
1. Satu stel pakaian bersih
2. Baskom mandi dua buah, masing-masing berisi air dingin dan air hangat
3. Satu atau dua handuk bersih
4. Kain penutup
5. Tempat bertutup untuk pakaian kotor
6. Sampiran atau scherm bila diperlukan.
Persiapan pasien :
Pasien diberi penjelasan dan dianjurkan untuk buang air kecil dulu (bila pasien sadar)
Pelaksanaan :
1. Pintu, jendela atau gorden ditutup, bila digunakan scherm bila perlu
2. Selimut dan bantal dipindahkan dari tempat tidur. Bila masih dibutuhkan, bantal digunakan seperlunya
3. Perawat berdiri disisi kiri atau kanan pasien
4. Beri tahu pasien, bahwa pakaian bagian atas harus dibuka, lalu bagian yang terbuka itu ditutup dengan selimut mandi atau kain penutup
5. Pasien siap dimandikan dengan urutan sbb :
a. Mencuci muka
b. Mencuci lengan
c. Mencuci dada dan perut
d. Mencuci punggung
e. Mencuci kaki
f. Mencuci daerah lipat paha dan genetalia
Mencuci Muka
1. Handuk dibentangkan dibawah kepala
2. Muka, telinga dan leher dibersihkan dengan waslap lembab lalu dikeringkan dengan handuk
3. Tanyakan, apakah pasien biasa menggunakan sabun atau tidak
Mencuci Lengan
1. Selimut mandi atau kain penutup diturunkan
2. Kedua tangan pasien dikeataskan, letakkan diatas dada pasien dan lebarkan kesamping kiri dan kanan sehingga kedua tangan dapat diletakkan diatas handuk
3. Kedua tangan pasien dibasahi dan disabuni, pekerjaan ini dimulai dari bagian yang jauh dari petugas. Kemudian dibilas bersih selanjutnya dikeringkan dengan handuk
Mencuci Dada dan Perut
1. Pakaian pasien bagian bawah ditinggalkan dan selimut atau kain penutup diturunkan sampai perut bagian bawah
2. Kedua tangan pasien dikeataskan, handuk diangkat dan dibentangkan pada sisi pasien
3. Ketiak, dada dan perut disabuni, dibilas sampai bersih dan dikeringkan dengan handuk, selanjutnya ditutup dengan kain penutup atau handuk.
Mencuci Punggung
1. Pasien dimiringkan kekiri
2. Handuk dibentangkan dibawah pungguntg sampai bokong
3. Punggung sampai bokong dibasahi, disabuni, dibilas dan selanjutnya dikeringkan dengan handuk
4. Pasien dimiringkan kekanan dan handuk dibentangkan dibawah punggung
5. Punggung kiri dicuci seperti pada punggung kanan
6. Pasien ditelsntsngksn, pakain bagian atas dipasang dengan rapi
Mencuci Kaki
1. Kaki pasien yang terjauh dari petugas dikeluarkan dari bawah kain penutup atau handuk
2. Handuk dibentangkan dibawahnya dan lutut ditekuk
3. Kaki disabuni, dibilas, selanjutnya dikeringkan, demikian juga kaki yang satu lagi
Mencuci Daerah Lipat Dan Paha dan Genetalia
1. Handuk dibentangkan dibawah bokong dan pakaian bagian bawah perut dibuka
2. Daerah lipatan paha dan genetalia dibasahi, disabuni lalu dibilas dan dikeringkan
3. Pakaian bagian bawah dikenakan kembali, kain penutup atau handuk diangkat, selimut pasien dipasangkan lagi
4. Pasien dan tempat tidur dirapikan kembali
5. Pakaian dan alat tenun kotor serta peralatan lain dibereskan dan dibawa ketempatnya.
Selasa, 18 Agustus 2009
MENCUCI TANGAN STERIL
MENCUCI TANGAN STERIL
| NO | KEGIATAN |
| 1. | Perhiasan dilepas termasuk arloji, lengan baju digulung sampai diatas siku |
| 2. | Kran dibuka, tangan dibasahi sampai siku |
| 3. | Tangan disabuni dan digosok dengan sabun kurang lebih 2 menit kemudian dibilas |
| 4. | Tangan disabuni lagi dan disikat mulai dari jari-jari terutama kuku, sela-sela jari, punggung tangan dan telapak tangan |
| 5. | Penyabunan dan penyikatan dilakukan pada kedua lengan sekurang-kurangnya enam kali |
| 6. | Tangan dibilas mulai dari ujung jari sampai kesiku |
| 7. | Tangan disabun, disikat dan dibilas lagi seperti tadi dan dilakukan berulang-ulang |
| 8. | Sikat dikembalikan, tangan dibilas dan tetap diarahkan keatas |
| 9. | Kran ditutup dengan siku |
| 10. | Tangan dikeringkan dengan lap kering steril |
| 11. | Satu bagian untuk satu tangan dan satu bagian lain untuk tangan yang satunya |
PRAKTEK MANDIRI DAN DESA SIAGA
PRAKTEK MANDIRI DAN DESA SIAGA
1. Permenkes no 1239/2001
Tentang Praktek Mandiri
- Praktek mandiri dapat dilakukan secara perorangan dan atau berkelompok
- Perawat dalam melakukan praktek mandiri sekurang-kurangny memenuhi persyaratan :
- Memiliki tempat praktek yang memenuhi persyaratan kesehatan
- Memiliki perlengkapan untuk tindakan askep di luar institusi pelayanan kesh termasuk kunjungan rumah
- Memiliki perlengkapan administrasi meliputi buku catatan kunjungan, formulir catatan tind askep serta formulir rujukan
- Persyaratan perlengkapan sebagaimana dimaksud pada (2) sesuai dengan standar perlengkapan askep yang ditetapkan oleh organisasi profesi
- Perawat yang telah mempunyai SIPP dan menyelenggarakan praktek mandiri wajib memasang papan nama praktik keperawatan.
Legalitas Perawat :
SIP dikeluarkan oleh Dinkes Profinsi (TK I) melalui uji kompetensi.
SIK dikeluarkan oleh Dinkes Kabupaten (TK II) melalui rekomendasi dari PPNI Kabupaten
SIPP dikeluarkan oleh Dinkes Kabupaten (TK II) melalui rekomendasi PPNI Kabupaten
2. Grand Strategi Desa Siaga
a. Menggerakan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat
- Seluruh desa menjadi desa Siaga
- Seluruh masy Ber PHBS
- Seluruh keluarga sadar gizi
b. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesh yang berkualitas
- Setiap orang miskin mendapat pelayanan kesh yang bermutu
- Setiap anak, bayi, ibu hamil dan kelompok masy resiko tinggi terlindungi dari penyakit
- Di setiap desa tersedia SDM kesh yang berkompeten
- Di setiap Desa tersedia cukup obat dan alat kesh
c. Meningkatkan system surveilans, monitoring dan informasi kesh
d. Meningkatkan pembiayaan kesh
3. Desa Siaga
Desa Siaga adalah desa yang memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah secara mandiri dalam rangka mewujudkan desa sehat.
Nilai, Visi dan Misi Desa Siaga
Nilai : - Berpihak kepada rakyat
- Bertindak cepat dan tepat
- Kerjasama tim
- Integritas yang tinggi
- Transparan dan Akuntabilitas
Visi : - Menciptakan masy yang mandiri untuk hidup sehat
- Menciptakan Ind Sehat
Misi : - Membuat Rakyat sehat
Strateginya :
a. Menggerakan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat
b. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesh yang berkualitas
c. Meningkatkan system surveilans, monitoring dan inormasi kesh
d. Meningkatkan pembiayaan kesh
Dimana kegiatannya adalah memanfaatkan SDM kesh yang sudah ada dan merekrut tenaga kesh baru.
Jenis Pelatihan bagi SDM di Desa Siaga
a. Pelatihan Bagi Tim Pengembang Desa Siaga,
dimana terdiri dari Ka. Puskesmas, Gizi, Sanitarian, Perawat dan Bidan.
Tujuannya :
- Mampu melakukan problem Solving dan Perencanaan
- Mampu melakukan Pendekatan Edukatif
- Mampu melakukan penggerakan dan Pemberdayaan masy
- Mampu memfasilitasi pengembangan desa siaga
b. Pelatihan Bagi Bidan di Desa Siaga
Tujuannya :
- Mampu melakukan Pengamatan Peny, Gizi, kesh lingk dan perilaku Masy dalam rangka survey mawas diri
- Melaksanakan Penyuluhan
- Melakukan kesiapsiagaan dan penanganan kegawatdaruratan masalah kesh
- Mendorong masy ber PHBS
c. Pelatihan bagi kader di Desa Siaga
Tujuannya :
- Mampu melakukan Pengamatan Peny, Gizi, kesh lingk dan perilaku Masy dalam rangka survey mawas diri
- Memberikan pelayanan kesh promotif dan Preventif
- Melakuakan Musyawarah masy desa dalam rangka penggalangan Komitmen Desa Siaga
- Menerapkan teknologi tepat guna sesuai dengan potensi yang ada.
4. Strategi dan Arah kebijakan
a. Strategi
1. Program Promosi Kesh dan Pemberdayaan masyarakat
2. Program Lingk sehat
3. Program Upaya kesh masy
4. Program Upaya kesh perorangan
5. Program pencegahan dan pemberantasan penyakit
6. Program perbaikan gizi masy
7. Program Sumber Daya kesh
8. Program Obat dan Perbekalan kesh
9. Program pengawasan Obat dan mak
10. Program pengembangan Obat Asli Ind
11. Program kebijakan dan Manajemen pemb kesh
12. Program penelitian dan Pengembangan Kesh
b. Arah kebijakan
1. Peningkatan jumlah jaringan dan kualitas puskesmas
2. Peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga medis
3. Pengembangan jaminan kesh bagi penduduk miskin
4. Peninhkatan sosialisasi kesh lingk dan pola hidup sehat
5. Peningkatan pendidikan kesh pada masy sejak usia dini
6. Pemerataan dan peningkatan kualitas fasilitas kesehatan dasar
5. Perbedaan Strategi dan Arah Kebijakan
Strategi yaitu Mengacu pada Polotiknya/caranya
Arah yaitu Sasaranya yaitu meningkatkan derajat kesh masy melalui peningkatan akses masy terhadap pelayanan kesh.
GENERASI KITA HEI ...!!!! THE NEXTER GENERATION
Inilah generasi kita, ada yang bilang ini generasi millennium. Patut disyukuri, kemajuan teknologi membuat hidup kita lebih mudah jika dibandingkan dengan generasi terdahulu. Keberuntungan pun selalu kita peroleh, kita dapat hidup di zaman yang baru, dengan sistem nilai yang baru, cara berpikir dan bertindak yang mestinya juga baru. Apa yang ada dalam diri kita tercermin dari hal-hal apa yang ada di otak kita. Setiap generasi mempunyai cara berfikit tersendiri, sebab cara berfikir akan membentuk cara bertindak, dan cara bertindak akan mempengaruhi hasil yang bisa kita dapatkan.
The nexter generation selalu bisa mengendalikan diri, kita harus selalu bisa mencari sisi lain yang positif dari masalah. Cobalah membayangkan diri kita manjadi orang lain, kemudian lihat diri kita dari sudut pandang mereka. Cara ini akan mempermudah kita membiasakan diri dengan berfikir positif.
THALASEMIA
THALASEMIA
A. DEFINISI
Thalassemia adalah sekelompok penyakit keturunan yang merupakan akibat dari ketidakseimbangan pembuatan salah satu dari keempat rantai asam amino yang membentuk hemoglobin.
Thalasemia adalah penyakit yang sifatnya diturunkan. Penyakit ini, merupakan penyakit kelainan pembentukan sel darah merah
B. PENYEBAB
Ketidakseimbangan dalam rantai protein globin alfa dan beta, yang diperlukan dalam pembentukan hemoglobin, disebabkan oleh sebuah gen cacat yang diturunkan. Untuk menderita penyakit ini, seseorang harus memiliki 2 gen dari kedua orang tuanya. Jika hanya 1 gen yang diturunkan, maka orang tersebut hanya menjadi pembawa tetapi tidak menunjukkan gejala-gejala dari penyakit ini.
C. KLASIFIKASI
Thalasemia digolongkan bedasarkan rantai asam amino yang terkena. 2 jenis yang utama adalah
1. Alfa-thalassemia (melibatkan rantai alfa)
Alfa-thalassemia paling sering ditemukan pada orang kulit hitam (25% minimal membawa 1 gen),
2. Beta-thalassemia (melibatkan rantai beta).
Beta-thalassemia pada orang di daerah Mediterania dan Asia Tenggara.
Thalassemia juga digolongkan berdasarkan
1. Apakah seseorang memiliki 1 gen cacat (Thalassemia minor)
1 gen untuk beta-thalassemia menyebabkan anemia ringan sampai sedang tanpa menimbulkan gejala. Sekitar 10% orang yang memiliki paling tidak 1 gen untuk alfa-thalassemia juga menderita anemia ringan
2. 2 gen cacat (Thalassemia mayor).
2 gen menyebabkan anemia berat disertai gejala-gejala.
1. Thalasemia Mayor, karena sifat sifat gen dominan. Thalasemia major merupakan penyakit yang ditandai dengan kurangnya kadar hemoglobin dalam darah. Akibatnya, penderita kekurangan darah merah yang bisa menyebabkan anemia. Dampak lebih lanjut, sel-sel darah merahnya jadi cepat rusak dan umurnya pun sangat pendek, hingga yang bersangkutan memerlukan transfusi darah untuk memperpanjang hidupnya. Seberapa sering transfusi darah ini harus dilakukan lagi-lagi tergantung dari berat ringannya penyakit. Yang pasti, semakin berat penyakitnya, kian sering pula si penderita harus menjalani transfusi darah.
2. Thalasemia Minor, si individu hanya membawa gen penyakit thalasemia, namun individu hidup normal, tanda-tanda penyakit thalasemia tidak muncul. Walau thalasemia minor tak bermasalah, namun bila ia menikah dengan thalasemia minor juga akan terjadi masalah. Kemungkinan 25% anak mereka menerita thalasemia mayor. Pada garis keturunan pasangan ini akan muncul penyakit thalasemia mayor dengan berbagai ragam keluhan. Seperti anak menjadi anemia, lemas, loyo dan sering mengalami pendarahan.
D. GEJALA
Semua thalassemia memiliki gejala yang mirip, tetapi beratnya bervariasi. Sebagian besar penderita mengalami anemia yang ringan.
Pada bentuk yang lebih berat, misalnya beta-thalassemia mayor, bisa terjadi sakit kuning (jaundice), luka terbuka di kulit (ulkus, borok), batu empedu dan pembesaran limpa.
Sumsum tulang yang terlalu aktif bisa menyebabkan penebalan dan pembesaran tulang, terutama tulang kepala dan wajah. Tulang-tulang panjang menjadi lemah dan mudah patah.
Anak-anak yang menderita thalassemia akan tumbuh lebih lambat dan mencapai masa pubertas lebih lambat dibandingkan anak lainnya yang normal.
Karena penyerapan zat besi meningkat dan seringnya menjalani transfusi, maka kelebihan zat besi bisa terkumpul dan mengendap dalam otot jantung, yang pada akhirnya bisa menyebabkan gagal jantung.
Oleh karena itu, untuk memastikan seseorang mengalami thalasemia atau tidak, dilakukan dengan pemeriksaan darah. Gejala thalasemia dapat dilihat pada banak usia 3 bulan hingga 18 bulan. Bila tidak dirawat dengan baik, anak-anak penderita thalasemia mayor ini hidup hingga 8 tahun saja. Satu-satunya perawatan degnan tranfusi darah seumur hidup. Jika tidak diberikan tranfusi darah, penderita akan lemas, lalu meninggal
E. DIAGNOSA
Thalassemia lebih sulit didiagnosis dibandingkan penyakit hemoglobin lainnya.
Hitung jenis darah komplit menunjukkan adanya anemia dan rendahnya MCV (mean corpuscular volume).
Elektroforesa bisa membantu, tetapi tidak pasti, terutama untuk alfa-thalassemia. Karena itu diagnosis biasanya berdasarkan kepada pola herediter dan pemeriksaan hemoglobin khusus.
F. PENGOBATAN
Pada thalassemia yang berat diperlukan transfusi darah rutin dan pemberian tambahan asam folat.
Penderita yang menjalani transfusi, harus menghindari tambahan zat besi dan obat-obat yang bersifat oksidatif (misalnya sulfonamid), karena zat besi yang berlebihan bisa menyebabkan keracunan.
Pada bentuk yang sangat berat, mungkin diperlukan pencangkokan sumsum tulang. Terapi genetik masih dalam tahap penelitian.
G. PENCEGAHAN
Pada keluarga dengan riwayat thalassemia perlu dilakukan penyuluhan genetik untuk menentukan resiko memiliki anak yang menderita thalassemia.
. Pengidap thalasemia yang mendapat pengobatan secara baik dapat menjalankan hidup layaknya orang normal di tengah masyarakat. Sementara zat besi yang menumpuk di dalam tubuh bisa dikeluarkan dengan bantuan obat. Selama ini, kata Suthat, zat besi yang menumpuk di tubuh penderita thalasemia hanya bisa dikeluarkan dengan penyuntikan obat Desferal. Obat yang disuntikkan di bawah kulit ini akan mengikat zat besi dan dikeluarkan melalui urine.
Penyakit thalasemia dapat dideteksi sejak bayi masih di dalam kandungan. Seperti dijelaskan Dr Suthat Fucharoen dari Pusat Studi Thalasemia Universitas Mahidol, Thailand, dalam simposium thalasemia di Jakarta, belum lama ini, jika suami atau istri merupakan pembawa sifat (carrier) thalasemia, maka anak mereka memiliki kemungkinan sebesar 25 persen untuk menderita thalasemia. Karena itu, ketika sang istri mengandung, disarankan untuk melakukan tes darah di laboratorium untuk memastikan apakah janinnya mengidap thalasemia atau tidak
Sumber : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=292118&kat_id=123
SISTEM MEDIK PERSONALISTIK
A. Pengertian
Menurut Foster dan Anderson (1978:51), didalam masyarakat pedesaan konsep penyakit dikenal dengan istilah system personalistik dan naturalistic. System Personalistik ialah penyakit yang dipercaya disebabkan oleh sesuatu hal diluar si sakit seperti akibat gangguan gaib seseorang (guna-guna), jin, makhluk halus, kutukan.
B. Latar belakang Primbon
Primbon mempunyai sejarah yang cukup panjang didalam tradisi jawa, setidak-tidaknya pada abad ke-8, suku jawa telah mengenal primbon. Namun primbon terlengkap dalam tradisi jawa baru ditulis pada zaman Kartasura berupa serat Centhini. Dalam serat ini diantaranya ditemukan berbagai hal tentang model pengobatan yang terjadi di Tengger. Di tengger diceritakan tidak ada dukun, bila ada orang yang sakit atau akan melahirkan dapat ditolong dengan memberinya minum air suci dari Gunung Brama. Badan yang sakit kemudian diusap dengan air suci tersebut yang menjadikannya sembuh berkat kekuasaan Hyang Bathara. Pada jilid II pupuh 48, diceritakan tentang Mas Cebolang yang bertemu dengan seorang ulama dari Jatisari bernama Ki Harjana yang memberikan wajangan tentang cara-cara merawat dan mengistirahatkan orang sakit.
C. Pengobatan Tradisional
System-sistem medis tradisional dalam kenyataannya masih tetap hidup, meskipun praktik-praktik biomedik kedokteran makin berkembang pesat dengan munculnya pusat-pusat layanan kesehatan. Namun setidak-tidaknya, komsep pengobatan tradisional jawa yang memiliki pandangan kosmologis tentang penyakit tidak saja pada apa yang menyebabkan sakit, melainkan juga bagaimana dan mengapa seseorang menjadi sakit. Sakit merupakan akibat rangkaian hubungan antara individu dengan lingkungan, yang individu itu ialah bagian yang tak terpisahkan dari suatu tatanan kosmis (Yitno. 1985:109). Akibat konsep tersebut, berbagai penyakit yang dipercaya sebagai akibat guna-guna, misalnya, tidak akan diobatkan ke dokter modern.
D. Sistem Pengobatan Tradisional Jawa
Dalam tradisi jawa, system pengobatan tradisionalnya mempunyai beberapa karakter yang khas. Dalam menentukan penyakit, primbon menggunakan perhitungan yang berdasarkan perhitungan waktu. Perhitungan yang banyak digunakan ialah perhitungan yang menggunakan dasar perhitungan hari dan pasaran.
Nilai neptu yang banyak digunakan adalah nilai hari dan pasaran. Menurut primbon, nilai hari dan pasaran tersebut masing-masing dapat dilihat dalam table berikut:
Hari Neptu Pasaran Neptu
Senin 4 Pon 7
Selasa 3 Wage 4
Rabu 7 Kliwon 8
Kamis 8 Legi 5
Jumat 6 Pahing 9
Sabtu 9
Minggu 5
Dalam primbon, perhitungan diperoleh dari jumlah nilai hari dan pasaran. Misalnya, jumlah nilai hari dan pasaran Minggu Pon adalah 5+7=12. jumlah nilai hari dan pasaran saat datangnya penyakit dapat digunakan untuk menentukan asal penyakit, tingkat penyakit, dan bagian yang sakit. Sebagai contoh, asal penyakit ditentukan dengan mengurangi jumlah hari dan pasaran tersebut dengan angka-angka kelipatan tiga sampai sisa terakhir. Sisa tersebut sebagai penentu asal penyakit yang dapat diuraikan berikut:
1. Sisa satu, jumlah hitungan tikus, penyakit dating dari dalam rumah. Maka harus ditebus dengan memuliakan obanyang smarabumi (makhluk halus yang menjaga wilayah) berupa nasi golong (nasi dibulatkan), pecel ayam dan sayur menir
2. Sisa dua, jatuh hitungan kadal, penyakit berasal dari luar rumah (halaman). Tebusannya ialah tukon pasar (makanan kecil/jajanan dari pasar)
3. Sisa tiga, jatuh hitungan ular, penyakit dating dari air. Tebusannya adalah jenang baning.
Etiologi penyakit menurut primbon ini dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk diagnose penyakit yang disesuaikan denga pandangan dan kondisi jaman primbon tersebut pertama kali ditulis. Sebagai contoh, etiologi penyakit dapat ditentukan berdasarkan tempat duduk hari. Berdasarkan hari dimulainya sakit, maka dapat ditentukan anggota badan yang memulai sakit atau sebab penyakitnya. Misalnya kalau sakit dimulai hari minggu asal penyakitnya dari tungkai. Penyababnya dapat karena berjalan, tersandung, dan kelelahan. Bila sakit dimulai hari Senin, asal penyakit dari telinga, penyebabnya bias karena mendengar berita buruk, menahan marah, dan sebagainya yang bersumber dari telinga.
Berdasarkan hari dimulainya sakit juga dapat ditentukan tentang jenis-jenis penykit sebagaimana idiuraikan dalam kitab primbon Betaljemur Adammakna
Nama Hari Sebab Penyakit
Senin Mempunyai nadzar yang belum dilaksanakan
Selasa Diguna-guna oleh orang lain
Rabu Diganggu oleh makhluk halus/setan
Kamis Terkena tulah dari orang tua
Jumat Diganggu makhluk halus yang ada di kolong rumah
Sabtu Diganggu oleh setan yang berasal dari hutan
Minggu Diganggu oleh makhlukhalus/setan
Secara teknis, pengobatan dalam tradisi jawa yang terdapat dalam primbon mengenal beberapa teknis pengobatan, yang berdasarkan tempat yang diberi ramuan dan cara memberikannya. Teknis pengobatan tersebut antara lain adalah jamu dan cekok, bobok, parem, boreh, pilis, pupuk sembir, tetulak, mantra, suwuk, kidung, dan rajah.
Janur adalah daun kelapa muda yang letaknya diatas. Hal ini sesuai dengan letak kepala yang berada diatas. Bila yang sakit lebih dari satu anggota badan, beberapa bahan boreh tersebut dicampur menjadi satu. Boreh itudiberi bunbu (campuran) yang erdiri atas pulasari, temu, dan bawang merah. Disamping itu, bagian yang sakit perlu ditebus dengan cara sedekah sesuai dengan tempat yang sakit. Penebusan tersebut dilakukan dalam kenduri. Sedekah terebut bila hanya satu bagian saja yang sakit (misalnya tangan kanan), maka tebusabbya hanya satu. Namun kalau dua anggota badan yang sakit, tebusannya juga harus dua. Tebusan tersebut sebagai berikut:
Anggota badan yang sakit Wujud tebusan
Kepala Kelapa utuh beserta tabon/kulitnya
Dada Buah nangka utuh
Tangan Pisang satu lirang
Kaki Pohon tebu sebatang
Kemaluan Pria : kue klepon
Wanita : kue srabi sepasang
Peracikan obat dikenal dua jenis, yaitu peracikan obat berdasarkan perhitungan waktu dan peracikan obat berdasarkan tradisi. Peracikan obat berdasarkan hitungan waktu ditentukan saat datangnya penyakit atau hari lahir si sakit. Obat jenis ini bersifat ritual. Peracikan obat berdasarkan tradisi ditentukan berdasarkan gejala penyakit yang tanpak.
Peracikan obat berdasarkan tradisi dapat dibagi menjadi 4 golongan yaitu:
1. Jalu Usada, dapat diartikan sebagai obat untuk laki-laki, didalamnya berisi obat-obat yang berhubungan dengan masalah seks laki-laki.
2. Wanita Usada, pengobatan untyuk masalah-masalah yang ada hubungannya dengan masalah reproduksi kaum wanita.
3. Rarya Usada, obat untuk penyakit anak-anak balita sejak dilahirkan misalnya memotong usus pusat, sampai dengan penyakit anak-anak umum seperti muntaber, cacingan, batuk.
4. Triguna Usada, obat untuk segal;a jenis penyakit, baik unyuk lelaki, wanita, maupun anak-anak. Obat jenis ini meliputi pengobatan untuk penyakit umum seperti kurang darah, flu, batuk, tujuan kecantikan dan PPPK.
.jpg)