WELCOME TO TINA DATE

Rabu, 29 Juli 2009

Asuhan keperawatan pada Pasien dengan Appendic

APPENDICITIS

A. Definisi
Appendisitis adalah inflamasi akut pada appendisitis
verniformis dan merupakan penyebab paling umum untuk bedah
abdomen darurat (Brunner & Suddart, 1997)

Usus buntu atau apendiks vermiformis merupakan penonjolan kecil
yang berbentuk seperti jari, yang terdapat di usus besar
(caecum), tepatnya di daerah perbatasan dengan usus ileum kuadran
kanan bawah.

Apendisitis adalah peradangan pada apendiks. Apendiks disebut juga
umbai cacing.


B. Etiologi
Appendisitis tersumbat atau terlipat oleh:
1. Fekalis/ massa keras dari feses
2. Tumor, hiperplasia folikel limfoid
3. Benda asing
4. Bakteri. Namun
5. Sumbatan dari lumen apendiks
6. Adanya timbunan tinja yang keras (fekalit)
7. Tumor apendiks
8. Pengikisan mukosa apendiks akibat parasit seperti E. hystolitica.
9. Makanan rendah
10. Tinja yang keras pada akhirnya akan meneyebabkan konstipasi yang akan meningkatkan tekanan di dalam sekum sehingga akan mempermudah timbulnya penyakit itu.

C. Patofisiologi
Appendisitis yang terinflamasi dan mengalami edema. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intra luminal, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif dalam beberapa jam, trlokalisasi di kuadran kanan bawah dari abdomen. Appendiks terinflamasi berisi pus.
Idiopatik makan tak teratur Kerja fisik yang keras

Massa keras feses

Obstruksi lumen

Suplay aliran darah menurun

Mukosa terkikis Perforasi, Abses, peritonitis

Appendiktomy

D. Manifestasi klinis
1. Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya demam ringan
2. Mual, muntah
3. Anoreksia, malaisse
4. Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney
5. Spasme otot
6. Konstipasi, diare
(Brunner & Suddart, 1997)

E. Pemeriksaan
Keluhan yang dirasakan oleh penderita, biasanya berupa demam ringan dengan suhu 37,5-38,5 C. Bila suhu tubuhnya sudah tinggi, maka mungkin sudah terjadi perforasi.
a. Inspeksi (pengamatan), tidak akan ditemukan tanda yang khas,
karena memang tidak ada penonjolan atau penimbunan pada bagian
perut.

b. Palpasi (memegang) perut. Pada daerah perut kanan bawah,
seringkali bila ditekan akan terasa nyeri. Terkadang bila tekanan
dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri perut kanan bawah merupakan
kunci dari diagnosis appendicitis akut. Nyeri perut kanan bawah
juga dirasakan bila penderita bergerak, bernafas dalam, berjalan,
batuk dan mengejan.

c. Pemeriksaan colok dubur untuk menentukan letak apendiks bila
letak apendiks sulit diketahui. Jika saat dilakukan colok dubur
kemudian terasa nyeri, maka kemungkinan apendiks penderita
terletak di daerah pelvis.

d. Laboratorium, yang dapat ditemukan adalah kenaikan dari sel darah
putih hingga sekitar 10.000 – 18.000/mm3. Jika terjadi
peningkatan yang lebih dari itu, maka kemungkinan apendiks sudah
mengalami perforasi (pecah).

e. Radiologi, foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit.
Namun pemeriksaan ini jarang membantu dalam menegakkan diagnosis
apendisitis.

f. Ultrasonografi (USG) cukup membantu dalam penegakkan diagnosis
apendisitis (71 – 97 %), terutama untuk wanita hamil dan
anak-anak. Tingkat keakuratan yang paling tinggi adalah dengan
pemeriksaan CT scan (93 – 98 %). Dengan CT scan dapat terlihat
jelas gambaran apendiks.


F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan standar untuk apendisitis adalah operasi. Pernah dicoba pengobatan dengan antibiotik, walaupun sembuh namun tingkat kekambuhannya mencapai 35 %. Pembedahan dapat dilakukan secara terbuka atau semi-tertutup (laparoskopi). Setelah dilakukan pembedahan, harus diberikan antibiotika selama 7 – 10 hari.


ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF PADA PASIEN APENDICTOMY

A. Asuhan Keperawatan Pre Operatif
1. Biodata pasien
a. Nama : Ny. A
b. Umur : 49 tahun
c. No. register : 065303
d. Ruang : ZH
e. Dx medis : Appendisitis
f. Tindakan operasi : appendictomy
g. Kmr op/tanggal : II/20 Maret 2009
h. Status kesehatan :
1) Kesadaran : Compos Mentis
Vital Sign : TD: 110/80 mmhH, Rr: 24x/mnt, N: 82x/mnt,
S: 36,5oC.
2) Riwayat kesehatan : Tidak memiliki alergi ataupun penyakit apapun
sebelumnya
3) Cairan parenteral : RL 500 cc.
4) Kebersihan colon lambung : Puasa selama ± 8 jam.
5) Pencukuran daerah operasi : Sudah
6) Kompres daerah operasi dengan kassa alcohol: Tidak
7) Personal Hygiene (mandi) : Sudah
8) Pengosongan kandung kemih : Sudah terpasang DC.
9) Latihan: pasien sudah latihan nafas
10) Baju operasi: sudah
2. Persiapan penunjang
Laboratorium
a. CT : 5,5 (1 – 6 menit)
b. BT : 4 (2 – 6 menit)
c. Gol. Darah : B
d. Hb : 13,9 (12-16 gr%)
e. AL : 7800 (4.000 – 10.000 /mm)
f. AT : 245.000 (150.000 – 400.000)
g. Gula sewaktu : 87 (100-130 mg/dl)

3. Inform consent: sudah, penanggungjawab : Tn.S
4. Definisi dan pathway
a. Definisi
Appendisitis adalah inflamasi akut pada appendisitis verniformis
dan merupakan penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat
(Brunner & Suddart, 1997)

b. Pathway
Idiopatik makan tak teratur Kerja fisik yang keras

Massa keras feses

Obstruksi lumen

Suplay aliran darah menurun

Mukosa terkikis Perforasi, Abses, peritonitis

Appendiktomy

5. Status Psikososial Pasien:
a. Subyektif
1) Pasien bertanya tentang prosedur operasi.
2) Pasien bertanya tentang lamanya operasi.
3) Pasien mengatakan agak khawatir tentang jalannya operasi.
b. Obyektif
1) Pasien terlihat gelisah saat tiduran di bed
2) Wajah pasien terlihat tegang
3) Mata pasien terlihat kosong dan melihat kesana-kemari.
4) RR : 22 x/mnt, N : 80 x/mnt

6. Diagnosa keperawatan
Ansietas b.d tindakan pembedahan yang akan dilakukan.
Tujuan/ KH (NOC):
Pasien mampu mengkoping kecemasan tersebut.

7. Intervensi (NIC):
a. Interaksi dengan pasien sesuai pemahaman pasien.
b. Kaji sumber ansietas.
c. Berikan motivasi pada pasien.
d. Identifikasi dan mendukung strategi koping yang biasa di gunakan
pasien.


8. Implementasi
1 Berinteraksi dengan pasien sesuai pemahaman pasien, Pasien
Kooperatif

2. Mengkaji sumber ansietas, Pasien Kooperatif
3. Memberikan motivasi pada pasien, Pasien Kooperatif
4. Mengidentifikasi dan mendukung strategi koping yang biasa di
gunakan pasien, Pasien Kooperatif


9. Evaluasi
S : Pasien mengatakan adanya kesiapan untuk menjalani operasi
O : Pasien masih terlihat tegang ketika akan dipindah ke kamar
operasi

A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan Intervensi (Pembedahan)


B. Asuhan Keperawatan Intra Operatif
1. Persiapan pasien
Posisi pasien : Supinasi
TD : 110/80 mmhg
RR : 12x/mnt
N : 76x/mnt
SO2 : 99
Pemasangan : Bed Side Monitor

2. Jenis Anestesi : Spinal Anestesi
3. Persiapan Alat
a. Basic Set Besar
Bengkok (2)
Kom (2)
Skapel besar (1), kecil (1)
Pinset anatomis besar (1), kecil (1)
Pinset sirugis besar (1), kecil (1)
Nailfuder (2) Klem arteri (10)
Duk klem (6)
Kocher (4)
Gunting tumpul (1), lancip (1)

b. Instrumen tambahan
Jas operasi (4)
Handschoon (4 pasang)
Big kassa (1)
Kassa (6 bundel)
Duk besar (2)
Duk kecil (2)
Duk lubang besar (1)
Suction (1)
Cutter (1)
Elis (1) Hak kecil (2)
Langen sedang (2), besar (2)
Ohak (2) : kecil & sedang
Klem bengkok panjang
Bisturi no.22
Benang :
Side 2/0, Side 3/0, Cromic 2/0 atraumatic, Cromic 0 atraumatic,
Plain 2/0

Jarum :
taper 2 buah, cutting 1 buah

4. Pelaksanaan Asisten/Instrumen
No Tindakan Peralatan
1. Desinfeksi Kom, betadin, alcohol, klem panjang, kassa
2. Drapping Duk besar, duk kecil, duk lubang besar, duk klem
3. Menandai daerah sayatan Pisau, klem, kasa
4. Melakukan sayatan transperitoneal lapis demi lapis hingga
peritonium Pisau, kasa, klem arteri, pinset cirurgis, gunting,
hak kecil dan sedang

5. Mencari appendik & melapangkan area operasi Klem arteri, kassa,
silk deep, hak besar, suction, elis

6. Memotong pangkal appendiks, dan menjahit appendiks Klem arteri,
nalfuder, side 2/0, gunting, hak besar, cutter, silk deep, elis

7. Observasi perdarahan & membersihkan area operasi Big kassa,
kassa, klem ovarium, pinset cirurgis, hak perut, silk deep,
suction

8. Hecting peritonium Cromic 2/0 atraumatic, pinset sirugis,
nailfuder, klem arteri, gunting, kassa, hak besar

9. Hecting otot Plain 2/0, jarum taper
10 Hecting fascia Cromic 0 atraumatic
11. Hecting lemak Chromic 2/0, jarum taper
12. Hecting kulit Side 3/0, jarum cutting
13. Desinfeksi Kasa betadin
14. Balut luka Kassa steril dan hipafix

C. Asuhan Keperawatan Post Operatif
1. Pengkajian
a. Pengkajian Primer
A (airway) : Tidak terdapat sumbatan jalan nafas ditandai
pasien dapat
berbicara
B (breathing) : Mafas spontan 14x/mnt, tidak ada bunyi
nafas tambahan

C (circulating) : Kulit pasien teraba dingin, pucat.
b. Pengkajian Sekunder
1) Kepala : Rambut bersih, telinga simetris tak ada serumen.
2) Mata : Simetris, anemis, bersih
3) Hidung : Tidak terdapat polip
4) Mulut : Gigi bersih, mukosa kering, bibir pecah-pecah
5) Leher : Tidak ada pembesaran tiroid
6) Dada : Simetris, putting rata, tak ada benjolan, terdengar nafas
vesikuler
7) Abdomen : Terdapat insisi luka operasi
8) Genetalia : Terpasang DC.
9) Ekstermitas : Keempat ekstermitas lengkap, tangan kanan terpasang
infus RL 500cc, kaki masih belum bisa digerakkan

Jenis Anastesi : Spinal Anastesi
Penilaian : Bromage score
No Kriteria Standar Masuk (awal di RR) Keluar dr RR
1. Gerakan penuh dari tungkai 0 2 1
2. Tidak mampu ekstensi tungkai 1 2 1
3. Tidak mampu fleksi lutut 2 2 2
4. Tidak mampu fleksi pergelangan kaki 3 2 1
Nilai <2>

2. Diagnosa keperawatan
a. Diagnosa Keperawatan
Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kesadaran pasien yang belum optimal

b. Rencana Keperawatan
1) Tujuan
Resiko cedera menurun (perilaku keamanan : pencegahan jatuh)
Kriteria Hasil: dalam waktu 15 menit, klien dapat:
a) Mencegah terjadinya jatuh
b) Kesadaran optimal
c) Mengembangkan strategi pengendalian resiko cedera.

2) Rencana Tindakan Keperawatan
a) Indentifikasi faktor yang mempengaruhi kebutuhan keamanan,
misal : defisit motorik/sensorik, perubahan status fisik,
tingkat kesadaran klien

b) Identifikasi faktor lngkungan yang memungkinkan resiko jatuh
] (posisi pasien senyaman mungkin)

c) Pantau tingkat kesadaran pasien dan lakukan RPS yaitu dengan
Bromage score

d) Anjurkan untuk makan dan minum langsung setelah operasi
e) Anjurkan Bed rest selama 24 jam

3) Implementasi
No Implementasi Respon Pasien
1 Memantau tingkat kesadaran pasien Klien Kooperatif
2 Memasang penghalang tempat tidur Klien Kooperatif
3 Mengajak klien berbincang-bincang (menanyakan nama dan alamat)
Klien Kooperatif

4. Menganjurkan makan dan minum langsung setelah operasi dengan penyajian yang masih hangat. Klien Kooperatif

4) Evaluasi Sumatif
No SOAP TTD
1 S: klien mengatakan masih sakit
O:
a. TTV:

TD:100/60 mmHg

N : 88 x/mnt
RR : 20 x/mnt
T : 36,5oC

b. Kesadaran : Bromage Score: 1, tidak mampu fleksi lutut
c. Bngun bila dipanggil
d. Gringsang
e. Terpasang plang bed.
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan RTL

3. Diagnosa keperawatan

Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kesadaran pasien yang
belum optimal


4. Rencana Keperawatan
Tujuan
Resiko cedera menurun (perilaku keamanan : pencegahan jatuh)
Kriteria Hasil: dalam waktu 15 menit, klien dapat:
Mencegah terjadinya jatuh
Kesadaran optimal
Mengembangkan strategi pengendalian resiko cedera.

6) Rencana Tindakan Keperawatan
Identifikasi faktor yang mempengaruhi kebutuhan keamanan, misal : defisit motorik/sensorik, perubahan status fisik, tingkat kesadaran klien
Identifikasi faktor lngkungan yang memungkinkan resiko jatuh (posisi pasien senyaman mungkin)
Pantau tingkat kesadaran pasien dan lakukan RPS yaitu dengan Bromage score
Anjurkan untuk makan dan minum langsung setelah operasi
Anjurkan Bed rest selama 24 jam

7) Implementasi
No Implementasi Respon Pasien
1 Memantau tingkat kesadaran pasien Klien Kooperatif
2 Memasang penghalang tempat tidur Klien Kooperatif
3 Mengajak klien berbincang-bincang (menanyakan nama dan alamat)
Klien Kooperatif

4. Menganjurkan makan dan minum langsung setelah operasi dengan
penyajian yang masih hangat. Klien Kooperatif


8) Evaluasi Sumatif

1 S: klien mengatakan masih sakit
O: TTV:
TD:100/60 mmHg
N : 88 x/mnt
RR : 20 x/mnt
T : 36,5oC
g. Kesadaran : Bromage Score: 1, tidak mampu fleksi lutut
h. Bngun bila dipanggil
i. Gringsang
j. Terpasang plang bed.
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan RTL

Asuhan keperawatan pada Pasien dengan HEMOROID

HEMOROID

1. Pengertian

Hemoroid/Wasir adalah suatu penyakit yang terjadi pada anus di mana bibir anus mengalami bengkak yang kadang disertai pendarahan.

Hemoroid dapat diartikan sebagai suatu benjolan yang ada disekitar anus yang didalamnya terdapat pembuluh darah balik (vena), otot dan jaringan ikat elastis. Anus sendiri merupakan suatu muara usus besar tempat keluarnya kotoran hasil dari pencernaan makanan.

Hemo Haemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam kanal anal (Suddarth and Bruner –2001).

Hemoroid adalah pemekaran pembuluh-pembuluh balik poros usus karena bendungan darah eksternal. (Ramli, Ahmad, Dr.Med.2003).

2. Jenis-Jenis / Macam-Macam Wasir / Homoroid / Ambeyen

Wasir atau ambeien ada dua macam yaitu:

  1. Hemoroid Dalam/Interna

Pada wasir dalam terdapat pembuluh darah pada anus yang ditutupi oleh selaput lendir yang basah. Jika tidak ditangani bisa terlihat muncul menonjol ke luar seperti wasir luar. Gejala wasir dalam adalah suka ada darah yang keluar dari anus saat bab / buang air besar. Jika sudah parah bisa menonjol keluar dan terus membesar sebesar bola tenis sehingga harus diambil tindakan operasi untuk membuang wasir.

Hemoroid Interna menjadi 4 derajat untuk menilai tingkat keparahannya:

1) Grade 1, terjadi perdarahan tetapi tidak ada tonjolan rektum.

2) Grade 2, terjadi tonjolan rektum tetapi bisa masuk kembali dengan sendirinya.

3) Grade 3, terjadi tonjolan rektum tetapi bisa masuk kembali dengan bantuan tangan.

4) Grade 4, terjadi tonjolan rektum disertai dengan bekuan darah dan tonjolan ini menutupi muara anus.

  1. Hemoroid Luar/Eksterna

Wasir luar merupakan varises di bawah otot yang umumnya berhubungan dengan kulit. Biasanya wasir ini terlihat tonjolan bengkak kebiruan pada pinggir anus yang terasa sakit dan gatal.

3. Hal-Hal / Faktor Pemicu Yang Menyebabkan atau Penyebab Wasir / Ambeien / Hemoroid

a. Terlalu banyak duduk

b. Diare menahun

c. Kehamilan ibu hamil yang diakibatkan perubahan hormon

d. Keturunan penderita wasir

e. Hubungan seks yang tidak lazim

f. Penyakit yang membuat mengejan penderita

g. Sembelit / konstipasi / obsitpasi menahun

h. Penekanan kembali aliran darah vena, dll.

4. Ciri Khas / Gejala Penyakit Wasir / Ambeien / Hemoroid

Sebelum parah sebaiknya kita mengenal seperti apa penyakit wasir ada awal mulanya sehingga kita bisa obati sedini mungkin. Biasanya penderita akan mengalami pendarahan dubur dengan warna darah merah muda yang menetes atau mengalir lewat lubang dubur / anus. Penderita juga akan merasa ada ganjalan pada anus ketika bab sehingga penderita akan ngeden / mengejan yang bisa memperparah wasirnya. Selain itu biasanya anus akan terasa gatal akibat virus dan bakteri yang membuat infeksi.

5. Mengatasi, Mengobati & Menyembuhkan Wasir / Ambeyen / Hemoroid

a. Jalankan pola hidup sehat

b. Olah raga secara teratur

c. Makan makanan berserat

d. Hindari terlalu banyak duduk atau nongkrong di wc / toilet

e. Jangan merokok, minum minuman keras, narkoba, dll

f. Jangan melakukan aktivitas hubungan seks yang tidak wajar

g. Minum air yang cukup

h. Jangan menahan kencing dan berak

i. Jangan suka menggosok dan menggaruk dubur berlebihan

j. Jangan mengejan / mengeden / ngeden berlebihan

k. Jika tidak ingin pup / bab jangan dipaksa

l. Duduk berendam pada air yang hangat

m. Minum obat sesuai anjuran dokter

6. Cara Mengobati Hemoroid

a. Meminimalisasi kemungkinan penyebab dari hemoroid tersebut. Bila disebabkan oleh faktor makanan maka dianjurkan untuk mulai mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung serat seperti buah buahan, sayur sayuran, padi padian dan sereal. Konsumsi obat pelunak kotoran dan minum yang banyak juga direkomendasikan

b. Menggunakan obat obatan antihemoroid. Ada beberapa sediaan obat diantaranya, salep, krim dan tablet anus.

c. Operasi. Operasi biasanya dilakukan pada hemoroid yang parah dan sulit diatasi dengan obat obatan. Namun biasanya, walau telah dilakukan operasi, pasien tetap dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung serat.

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF

PADA PASIEN DENGAN HEMOROID

A. Asuhan Keperawatan Pra Operasi di Kamar Bedah

1. Biodata Pasien

a. Nama : Ny. L

b. Usia : 26 tahun

c. No Registrasi : 156818

d. Ruang : ZH

e. Diagnosa Medis : Hemoroid Grade III

f. Tindakan Operasi : Hemoroidectomy

g. Kamar/Tanggal Operasi : II/Jum’at, 3 April 2009

2. Status Kesehatan

a. Kesadaran : Compos Mentis

b. TTV :

1) TD : 110/70 mmHg

2) N : 80 x/mnt

3) T : 36oC

4) RR : 20 x/mnt

c. Riwayat Kesehatan

Riwayat Kesehatan Dahulu: Klien belum pernah di operasi

Riwayat Kesehatan Saat ini: Muncul benjolan di anus, sakit ± 3 bulan yang lalu, nyeri dan berdarah

d. Nutrisi

1) BB : 43 kg

2) TB : 152 cm

e. Cairan Parenteral

Infuse sudah terpasang dengan cairan RL

f. Kebersihan Colon Lambung

Klien sudah melakukan puasa selama 6 jam, tanpa di huknah dan tanpa pemasangan NGT

g. Pencukuran area operasi : sudah dilakukan

h. Personal Hygiene (mandi) : sudah

i. Pengosongan kandung kemih

DC : sudah terpasang

j. Baju Operasi : sudah terpakai

3. Persiapan Penunjang

Laboratorium : darah lengkap : sudah, antara lain :

No

Parameter

Hasil

1

CT

6

2

BT

3

3

Golongan Darah

AB

4

Hb

9,7

5

AL

9800

6

AT

472.000

7

Gula Sewaktu

85

4. Informed Consent : Sudah disetujui dengan Tn. S

5. Definisi dan Pathway :

a. Definisi

Hemoroid/Wasir adalah suatu penyakit yang terjadi pada anus di mana bibir anus mengalami bengkak yang kadang disertai pendarahan.

b. Pathway

c. Status Psikososial

1) Subjektif :

a) Klien mengatakan belum pernah operasi

b) Klien mengatakan nyeri sekali untuk duduk dengan skla 8, keluar darah sejak ± 3 bulan yang lalu

2) Objektif

a) Ada benjolan di anus

b) BAB darah

c) Skala nyeri : 8

d) Meringis kesakitan

6. Diagnosa Keperawatan

Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan proses penyakit (hemoroid grade III) dimanifestasikan dengan skala nyeri : 8

7. Rencana Keperawatan

a. Tujuan : menurunkan tingkat nyeri dengan meningkatkan kenyamanan

Kriteria Hasil : dalam waktu 15 menit, klien mengatakan:

1) Tingkat nyeri menurun

2) Latihan nafas dalam

b. Rencana Tindakan Keperawatan

1) Kaji tingkat nyeri / ketidaknyamanan pada skala 0-10

2) Ajarkan teknik nafas dalam untuk mengurangi nyeri

3) Atur posisi yang nyaman : posisi klien miring

c. Implementasi

No

Implementasi

Respon Pasien

1

mengkaji tingkat nyeri / ketidaknyamanan pada skala 0-10

Skala 8

2

Mengkaji aktivitas sehari-hari sebelumnya

Pasien kooperatif

3

Mengatur posisi yang nyaman : posisi klien miring

Klien kooperatif ( klien miring kiri)

4

Ajarkan teknik nafas dalam untuk mengurangi nyeri

Klien kooperatif dalam latihan nafas dalam

B. Perawatan Intra Operasi

1. Persiapan pasien

Posisi pasien : litothomy

TTV :

a. TD : 110/70 mmHg

b. T : 36oC

c. RR : 21 x/mnt

d. N : 88 x/mnt

2. Persiapan Alat

a. Chromic atraumatik 0 (2)

b. Cromatik 1 (1)

c. Saturasi O2

d. Cairan RL

e. Tensi

f. Perlak

g. Duk Besar (3)

h. Duk kecil (2)

i. Calamicityne

j. Kasa (10)

k. Plester

l. Jarum (besar, sedang, kecil)

m. Jas Operasi (4)

n. Handschoen

o. Scapel (2)

p. Pinset anatomis (2)

q. Pinset sirurgis (2)

r. Klem arteri (10)

s. Cocker (4)

t. Duk klem (6)

u. Nail Holder (2)

v. Bengkok (2)

w. Kom (2)

x. Gunting (2)

y. Bisturi (1)

3. Pelaksanaan Asisten/Instrumen

No

Tindakan

Alat yang disiapkan

1

Atur posisi pasien

Litothomy

2

Mempersempit area operasi

Duk klem, duk besar, duk sedang

3

Antiseptic area operasi

Kasa, betadin, alcohol, klem arteri

4

Klem posisi jam 12, 3, 6, 9

Siap klem

5

Sayat benjolan

siap bisturi, dan kasa

6

Adanya perdarahan

Siap klem, kasa

7

Klem posisi jam 12-3 dan pemotongan kulit dan mukosa

Benang dan Nail holder

8

Posisi sama dengan arah jarum jam

a. 3 – 6

b. 6 – 9

c. 9 – 12

Gunting, kasa

9

Mengulangi jahitan memutar sesuai arah jam

Siapkan benang atraumatik no. 1

10

Cek perdarahan

kasa

11

Gunakan tampon

Kasa tampon kenicer

12

Operasi selesai, klien dibersihkan

-

13

Pasang DC

Siapkan DC

C. Asuhan Keperawatan Post Operasi di Kamar Bedah

1. Pengkajian post operasi

a. Primer

A : tidak ada secret, RR: 20 x /mnt

B : tidak ada gangguan jalan nafas

C : TD : 100/60 mmHg, N : 88 x/mnt, tidak simetris, kemerah-merahan di area operasi

b. Pengkajian Sekunder

1) TTV:

a) TD : 100/60 mmHg

b) N : 88 x/mnt

c) RR : 20 x/mnt

d) T : 36,5oC

Jenis Anastesi : Spinal Anastesi

Nilai Bromage score

No

Kriteria

Standar

Masuk

Keluar

1.

Gerakan penuh di tungkai

0

0

0

2.

Tidak mampu ekstensi tungkai

1

0

0

3.

Tidak mampu fleksi lutut

2

1

1

4.

Tidak mampu fleksi pergelangan kaki

3

1

0

c. Diagnosa Keperawatan

Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kesadaran pasien yang belum optimal

d. Rencana Keperawatan

1) Tujuan

Resiko cedera menurun (perilaku keamanan : pencegahan jatuh)

Kriteria Hasil: dalam waktu 15 menit, klien dapat:

a) Mencegah terjadinya jatuh

b) Kesadaran optimal

c) Mengembangkan strategi pengendalian resiko cedera.

2) Rencana Tindakan Keperawatan

a) Indentifikasi faktor yang mempengaruhi kebutuhan keamanan, misal : defisit motorik/sensorik, perubahan status fisik, tingkat kesadaran klien

b) Identifikasi faktor lngkungan yang memungkinkan resiko jatuh (posisi pasien senyaman mungkin)

c) Pantau tingkat kesadaran pasien dan lakukan RPS yaitu dengan Bromage score

d) Anjurkan untuk makan dan minum langsung setelah operasi

e) Anjurkan Bed rest selama 24 jam

3) Implementasi

No

Implementasi

Respon Pasien

1

Memantau tingkat kesadaran pasien

Klien Kooperatif

2

Memasang penghalang tempat tidur

Klien Kooperatif

3

Mengajak klien berbincang-bincang (menanyakan nama dan alamat)

Klien Kooperatif

4

Menganjurkan makan dan minum langsung setelah operasi dengan penyajian yang masih hangat.

Klien Kooperatif

4) Evaluasi Sumatif

No

SOAP

TTD

1

S: klien mengatakan masih sakit

O:

a. TTV:

¾ TD:100/60 mmHg

¾ N : 88 x/mnt

¾ RR : 20 x/mnt

¾ T : 36,5oC

b. Kesadaran : Bromage Score: 1, tidak mampu fleksi lutut

c. Bngun bila dipanggil

d. Gringsang

e. Terpasang plang bed.

A: masalah teratasi sebagian

P: lanjutkan RTL