WELCOME TO TINA DATE

Jumat, 27 Maret 2009

LAPARATOMY

LAPARATOMI


A. Pengertian
Laparatomi adalah pembedahan perut, membuka selaput perut dengan operasi (Lakaman:2000;194).
Pembedahan perut sampai membuka selaput perut.
Ada 4 cara, yaitu;
1. Midline incision
2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah ( 2,5 cm), panjang (12,5 cm).
3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah  4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy.


Latihan-latihan fisik
Latihan napas dalam, latihan batuk, menggerakan otot-otot kaki, menggerakkan otot-otot bokong, Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi.

POST LAPARATOMI
Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasien-pasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut.

Tujuan perawatan post laparatomi;
1. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
2. Mempercepat penyembuhan.
3. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi.
4. Mempertahankan konsep diri pasien.
5. Mempersiapkan pasien pulang.

Komplikasi post laparatomi;
1. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 - 14 hari setelah operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak.
Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif.

2. Buruknya intergriats kulit sehubungan dengan luka infeksi.
Infeksi luka sering muncul pada 36 - 46 jam setelah operasi. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens, organisme; gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan.
Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik.

3. Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.
Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka.
Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi.
Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan, ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah.

B. Etiologi
1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
2. Peritonitis
3. Perdarahan saluran pencernaan.
4. Sumbatan pada usus halus dan usus besar.
5. Masa pada abdomen

Komplikasi
1. Ventilasi paru tidak adekuat
2. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi, aritmia jantung.
3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
4. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan

C. Manifestasi klinis
• Fase pertama
Berlangsung sampai hari ke 3. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka.

• Fase kedua
Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan.

• Fase ketiga
Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun, timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali.

• Fase keempat
Fase terakhir. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.

Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan
1. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c.
2. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.
3. Pencegahan infeksi.

Pengembalian Fungsi fisik.
Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektf, latihan mobilisasi dini.

Mempertahankan konsep diri.
Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. Intervensi perawatan terutama ditujukan pada pemberian support psikologis, ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang perubahan-perubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi.

D. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Hiteroskopi untuk melihat apakah AKDR di dalam atau di luar kavum uteri
b. Pemeriksaan radiologi untuk mengetahui dimana letak IUD

E. Pemeriksaan Penunjang
a. Tirah Baring total 24 jam, kemudian mobilisasi secara bertahap
b. Kontrol tensi, nadi tiap 15 menit, suhu tiap 30 menit bila stabil tiap 4 jam.
c. Selama 13-24 jam pertama, pemasukan makanan per os distop. Kemudian secara bertahap diberikan makanan cair hingga padat sesuai keadaan penderita.
d. Bila kesakitan, berikan analgetik narkotik, betadine 50mg maksimal 4 kali dalam 24 jam.
(Bharata : 1998;267)

F. Pathway


Pengkajian
Perlengkapan yang dilakukan pada pasien post laparatomy, adalah;
1. Respiratory
• Bagaimana saluran pernapasan, jenis pernapasan, bunyi pernapasan.
2. Sirkulasi
• Tensi, nadi, respirasi, dan suhu, warna kulit, dan refill kapiler.
3. Persarafan : Tingkat kesadaran.
4. Balutan
• Apakah ada tube, drainage ?
• Apakah ada tanda-tanda infeksi?
• Bagaimana penyembuhan luka ?

5. Peralatan
• Monitor yang terpasang.
• Cairan infus atau transfusi.
6. Rasa nyaman
• Rasa sakit, mual, muntah, posisi pasien, dan fasilitas ventilasi.
7. Psikologis : Kecemasan, suasana hati setelah operasi.


Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen.
2. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi.
3. Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam, pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak.

Kriteria Evaluasi
Hasil yang diharapkan setelah perawatan pasien post operasi, meliputi;
1. Tidak timbul nyeri luka selama penyembuhan.
2. Luka insisi normal tanpa infeksi.
3. Tidak timbul komplikasi.
4. Pola eliminasi lancar.
5. Pasien tetap dalam tingkat optimal tanpa cacat.
6. Kehilangan berat badan minimal atau tetap normal.
7. Sebelum pulang, pasien mengetahui tentang :
• Pengobatan lanjutan.
• Jenis obat yang diberikan.
• Diet.
• Batas kegiatan dan rencana kegiatan di rumah.

PENATALAKSANAAN PERAWATAN

Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen.
2. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi.
3. Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam, pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak.

Hasil yang diharapkan
1. Pasien akan tetap merasa nyaman.
2. Pasien akan tetap mempertahankan kesterilan luka operasinya.
3. Pasien akan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Tindakan keperawatan (intevensi keperawatan) pre operatif :
1. Pertahankan pasien untuk bedrest sampai diagnosa benar-benar sudah ditegakkan.
2. Tidak memberikan apapun melaui mulut dan beritahukan pasien untuk tidak makan dan minum.
3. Monitoring cairan intra vena bila diberikan.
4. Mencatat intake dan output.
5. Posisi pasien seenak mungkin.
6. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obatan.
7. Ajarkan pasien hal-hal yang perlu dilakukan setelah operasi selesai.
8. Monitoring tanda-tanda vital.

Tindakan keperawatan post operasi:
1. Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output
2. Observasi dan catat sifat darai drain (warna, jumlah) drainage.
3. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati, jangan sampai drain tercabut.
4. Perawatan luka operasi secara steril.

Evaluasi
1. Tanda-tanda peritonitis menghilang yang meliputi :
• Suhu tubuh normal
• Nada normal
• Perut tidak kembung
• Peristaltik usus normal
• Flatus positif
• Bowel movement positif
2. Pasien terbebas dari rasa sakit dan dapat melakukan aktifitas.
3. Pasien terbebas dari adanya komplikasi post operasi.
4. Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan mengembalikan pola makan dan minum seperti biasa.
5. Luka operasi baik.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Dr. Sutisna Himawan (editor). Kumpulan Kuliah Patologi. FKUI

Brunner / Sudart. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. Lippincott Company. Philadelphia. 1984.

Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987, Edisi II.

PENGKAJIAN KULIT

Pengkajian Sistem Integument
( meliputi kulit, kuku, rambut dan kulit kepala )
I. Alat khusus
 Pencahayaan yang cukup
 Handscoon sekali pakai
II. Persiapan klien
Untuk pengkajian total seluruh kulit dengan melakukan beperapa posisi
a. Area yang dipriksa terbuka penuh.
b. Area bersih dari kosmetik/ yang lain.
c. Untuk inspeksi yang akurat
d. Tanyakan pada klien tentang adanya lesi,kemerahan, memar.
e. Apakah klien memperhatikan adanya perubahan warna kulit/apakah klien banyak menghabiskan waktu/abekerja diluar.
f. Tanyakan apakah terjadi trauma kulit akhir- akhir ini.
g. Tanyakan apakah klien punya riwayat alergi yang menyebabkan kemerahan atau bintik-bintik Merah dan gatal.
h. Tanyakan apakah klien menggunakan obat- obatan topical atau ramuan sendiri.
i. Tanyakan apakh klien pergi ke salon perawatan kulit, menggunakan lampu pemanas, pil perawatan kulit.
j. Tanyakan apakah klien punya riwayat keluarga dengan gangguanm kulit yang serius.

III. TEHNIK PENGKAJIAN
Kwaspadaan; cuci tangan / pakai sarung tangan
1. Inspeksi ;
 Inspeksi warna dan pigmentasi kulit
 Hasil normal : pigentasi normal pada kulit warna putih berkisar antara Merah muda sampai kemerahan, sedang pada kulit gelap adalah Coklat samar sampai Coklat gelap.
 Perhatikan bila kulit pucat atau gelap lebih dari biasanya.
 Perhatikan dimana terjadi variasi warna
 Inspeksi warna bibir, kuku, telapak tangan dan konjungtiva.( hasil normal warna terang ).
 Inspeksi sclera untuk adanya jaundis.
 Perhatikan lebih pada daerah traksi, amputasi, dan balutan

Pengkajian lesi
Letak anatomi : setempat.
Susunan : garis, berkelompok, dermatomal.
Jenis : lesi primer / sekunder.
Warna : Merah. Putih, Coklat dll.

2. Palpasi
 Menggunakan ujung jari palpasi permukaan Kulit untuk Merasakan kelembabanya.( lebab, kering, berminyak ).
 Palpasi suhu kulit dengan bagian dorsal/ punggung tangan, bandingkan bagian tubuh yang simetris.( hangat atau dingin ).Bandingkan antara atas dan bawah.
 Tekan ringan kulit untuk menentukan teksturnya ( halus atau kasar ), kelembutan, ketegangan kedalaman lesi permukaan. ( hasil normal pada anak – anak dan dewasa adalah halus, lembut dan lentur ).
 Kaji turgor dengan mencubit kulit pada punggung tangan dan lengan bawah dan lepaskan.
 Kaji mobilitas kulit ( menurun pada edema ).

Pengkajian pitting edema
Cara : tekan kulit area edema selama 5 detik danb lepaskan ukur kedalaman dengan millimeter.
Perubahan – perubahan warna pada kulit

NO WARNA PENYEBAB LOKASI
1. Coklat Peningkatan melanin ; terpajan sinar UV , kehamilan, penyakit Addison. Wajah, areola mamae, putting susu, lengan tangan bawah.

NO WARNA PENYEBAB LOKASI
2. Sianosis Peningkatan deoksihemoglobin abnormal, hipoksi Perifer,/ penurunana aliran darah ke kulit, penurunan oksihemoglobin.( lingkungan yang dingin, PJK, peny. Paru, edema syndrome nefrotik, syok ). Punggung kuku, bibir, mulut, kulit untuk sisnosis sentral yang kuat.
3. Pucat Penurunan warna / melanin, anemia, albinisme, virtilligo, edema, Kulit, konjungtiva, bibir, punggung kuku.
4. Merah Peningkatan visibilitas oksihemoglobin krn dilatasi p.darah superfisial, atau peningkatan aliran darah ke kulit, Demam, ruam kulit, masukan alkohol, trauma langsung, inflamasi setempat.
5. Jaundise/ Kuning, ikterik, Peningkatan penyimpanan bilirubin dalam jaringan.( penyakit hepar, ginjal, pancreas, hemolisis sel – sel darah Merah, peningkatan masukan karoten. Sclera, membran mukosa , kulit
6. Kehitaman/ kebiruan. Ekstravasasi darah ke jaringan subcutan ( ekimosis ), ekimosis. Ekstremitas, kepala, area yang mudah terluka atau trauma.


IV. KUKU
PENGKAJIAN KUKU

Alat khusus: pencahayaan dan sarung tangan bersih jika ada drainase.
Persiapan klien : atur posisi duduk atau berbaring.
Riwayat
o Apakah telah mengalami traum kuku saat ini ?
o Tentukan praktek- praktek perawatan kuku dan pekerjaan klien.
o Tanyakan apakah klien pernah melihat perubaghan – perubahan penampilan dan pertumbuhan kuku.
o Tentukan jika klien punya resiko atau masalah kuku / telapak kaki ( diabetes m.)
Tekhnik pengkajain

No Pengkajian Warna atau Bentuk Penyebab Hasil normal
1. Inspeksi : warna dasar kuku, bentuk kuku, tekstur dan keadaan jaringan disekitar sianosis Penurunan sirkulasi darah Perifer Transparan, halus, dan cembung dengan kulit ari disekitarnya halus.
2. Bentuk Jari tabuh : perubhan sudut antara dasar kuku dengan kuku > 180 derajat, pelunakan pada dasar kuku dengan pendataran dan pembesaran ujung jari. Kekurangna oksigen secara kronis, penyakit PJK, penyakit paru. Sudut antara punggung kuku dan kuku < 160 derajat.

3. Garis beau’s :
Penekanan transfersal pada kuku yang menadakan gangguan sementara pada pertumbuhan kuku. Penyakit sistemik, infeksi berat, cidera kuku.
4. Koiloncia: lengkungna cekung. Defisiensi zat besi, sipilis, penggunaan deterjen kuat.
5. Splinter haemoragec: garis Merah / Coklat pada lapisan kuku. Trauma minor, endokarditis, bakteri akut,trikionosis.
6. Paronikia Infeksi kulit pada dasar kuku., infesi local n trauma.
7. Onikolisis : pelepasan lempeng kuku yang tidak terasa sakit dari bantalan kuku dimulai dari distal. Trauma , infeksi / peradangan local,
8. Kuku tery’s : keputihan dengan pita distal kemerahan atau Coklat Penuaan dan penyakit kronis .
10. Leukonisia : bercak putih yang disebabkan oleh trauma tumbuh keluar bersamaan dengan pertumbuhan kuku.
11. Pitting kuku: cekungan kecil pada lempeng 2x kuku Psoriasis dan infeksi- infeksi lain.
V. PENGKAJIAN RAMBUT DAN KULIT KEPALA
Alat : penchayaan dan sarung tangan

Riwayat
Kaji apakah klien memakai wig atau rambut palsu.
Kaji apakah klien menemukan perubahan pada pertumbuhan rambutnya .
Identifikasi jenis sampho, produk – produk perawatan rambut, alat pengering rambut.
Kaji apakah klien sedang dalam pengobatan kemoterapy.
TEKHNIK PENGKAJIAN
INSPEKSI
Rambut :
Kuantitas : banyak, sedikit, tebal, tipis, penyebaran
Tekstur : halus, kasar.
Kekuatan : getas, mudah patah, mudah rontok.
Kulit kepala : Benjolan, lesi, ketombe, lembab, berminyak, ada luka,
Tulang tengkorak : ukuran dan kontur ( hidrosefalus, lekukan pada kulit kepala karena trauma,
Wajah : simetri / tidak, dan ekspresi wajah.( paralysis wajah, emosi ).
TIPE – TIPE LESI KULIT
NO TIPE LESI CONTOH
1. Lesi primer : perubahan pada kulit yang berbentuk melingkar, rata, dan tidak teraba. Macula, bercak kecil: frekel, petekie, bercak, vitilligo.

Massa teraba, menonjol, padat, Papula, akne/ jerawat, plak, xantelasma kelopak mata, nodul, kista epidermoid, tumor, neurofibroma, lepuh, edema, gigitan nyamuk.
Penonjolan kulit superfisisal yang melingkar yang dibentuk oleh cairan yang bebas bergerak dalam rongga antara lapisan-lapiasan kulit. Vesikel, bula ( terisi cairan serosa), pustula ( terisi pus )
2. Lesi sekunder :
Kehilangan permukaan kulit Erosi ( kehilangan epidermis superfisial ) ,ulkus ( lebih dalam ) dan meninggalkan jaringan parut cth kanker sifilis, ulkus kekurangan venosa, fisura ( pecahnya kulit membentuk garis lurus ).
Benda – benda pada permukaan kulit Keropeng ( residu nanah, serum, darah yg mengering ) , skabies. Skale ( epidermis yang mengalami eksfoliasi ) : kulit kering, ketombe.